
SURABAYA | SIGAP88 — Setiap hari ribuan kontainer bergerak keluar masuk melalui Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Dari pelabuhan inilah distribusi pangan, bahan baku industri, energi hingga komoditas ekspor menuju berbagai wilayah Indonesia berlangsung tanpa henti.
Setiap pergerakan kapal dan peti kemas dari pelabuhan ini tidak hanya menghubungkan antarpulau, tetapi juga menjaga denyut industri, perdagangan, dan investasi di Jawa Timur.
Karena itu, kepemimpinan organisasi pelayaran yang menaungi ratusan perusahaan angkutan laut bukan sekadar urusan internal organisasi, melainkan bagian dari ekosistem yang menentukan daya saing maritim daerah.
Di balik padatnya aktivitas tersebut, terdapat peran strategis perusahaan-perusahaan pelayaran nasional yang berhimpun dalam Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Surabaya.
Organisasi ini menjadi salah satu simpul penting yang menghubungkan kepentingan pelaku usaha pelayaran dengan pemerintah dalam menjaga kelancaran arus barang dan jasa melalui jalur laut.
Karena itu, Musyawarah Cabang (Muscab) DPC INSA Surabaya yang digelar di Surabaya, Jumat (31/7/2026), bukan sekadar agenda rutin memilih ketua baru.
Forum tersebut menjadi momentum menentukan arah organisasi yang menaungi 168 perusahaan anggota dalam menghadapi tantangan industri pelayaran yang semakin kompetitif.
Bagi dunia usaha pelayaran, keputusan yang lahir dari Muscab tidak hanya menentukan arah organisasi, tetapi juga menjadi pijakan untuk memperkuat daya saing industri maritim nasional di tengah perubahan ekonomi global.
Kepercayaan anggota akhirnya kembali bermuara kepada Stenvens Handry Lesawengen. Melalui mekanisme aklamasi, ia kembali dipercaya memimpin DPC INSA Surabaya untuk masa bakti 2026–2031, sekaligus menjadi periode keempat kepemimpinannya di organisasi pelayaran terbesar di Jawa Timur tersebut.
Proses pemilihan berlangsung dalam suasana kondusif dan penuh semangat kebersamaan. Seluruh tahapan Muscab berjalan lancar dengan dihadiri ratusan anggota yang memberikan dukungan terhadap keberlanjutan kepemimpinan organisasi.
Muscab juga dihadiri jajaran pejabat pemerintah serta para pemangku kepentingan sektor kepelabuhanan dan logistik, diantaranya Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Adhy Karyono, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Timur, Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pelabuhan Utama Tanjung Perak, Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, Bea Cukai, Direktur Eksekutif Pelindo Regional 3, hingga perwakilan berbagai asosiasi pelabuhan seperti APBMI, Gafeksi, GPEI, GINSI, dan Organda.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menjadi gambaran bahwa posisi DPC INSA Surabaya tidak hanya penting bagi dunia usaha pelayaran, tetapi juga memiliki peran strategis dalam mendukung ekosistem logistik nasional yang menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi Jawa Timur.
INSA, Pilar Konektivitas Maritim Jatim

Pemerintah Provinsi Jawa Timur menilai sektor pelayaran merupakan salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi daerah. Posisi geografis Jawa Timur sebagai gerbang perdagangan di kawasan timur Indonesia menjadikan konektivitas laut memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjaga kelancaran distribusi barang, arus investasi, hingga aktivitas ekspor dan impor.
Pandangan tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, saat membuka Musyawarah Cabang (Muscab) DPC INSA Surabaya. Menurutnya, keberadaan organisasi yang menaungi perusahaan-perusahaan pelayaran nasional itu menjadi bagian penting dalam menggerakkan roda perekonomian daerah.
“Jawa Timur merupakan pintu gerbang nusantara yang didukung jaringan pelabuhan penting. INSA Surabaya memiliki 168 anggota. Jika masing-masing anggota mengelola 10 kapal, maka potensi yang dimiliki Jawa Timur sangat besar,” ujar Adhy.
Besarnya potensi tersebut menunjukkan bahwa setiap kebijakan yang lahir dari INSA tidak hanya berdampak pada perusahaan pelayaran, tetapi juga memengaruhi kelancaran distribusi barang, stabilitas rantai pasok, serta iklim investasi di Jawa Timur. Dengan ratusan perusahaan anggota yang bergerak di berbagai bidang jasa kemaritiman, DPC INSA Surabaya menjadi salah satu simpul utama dalam menjaga arus logistik nasional melalui Pelabuhan Tanjung Perak.
Tidak hanya berperan sebagai wadah organisasi, INSA juga menjadi mitra pemerintah dalam merespons berbagai tantangan sektor pelayaran. Mulai dari peningkatan efisiensi biaya logistik, penyederhanaan layanan kepelabuhanan, hingga adaptasi terhadap perkembangan teknologi digital yang kini menjadi tuntutan industri maritim global.
Dalam konteks tersebut, kesinambungan kepemimpinan di tubuh DPC INSA Surabaya dinilai menjadi faktor penting. Organisasi membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga komunikasi dengan pemerintah, memperkuat sinergi dengan operator pelabuhan, serta menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi pelaku usaha pelayaran.
Lebih jauh, tantangan sektor maritim ke depan tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya volume perdagangan. Persaingan antar pelabuhan, percepatan digitalisasi layanan, efisiensi operasional, hingga penguatan sumber daya manusia menjadi pekerjaan besar yang harus dijawab bersama oleh pemerintah dan pelaku industri.
Karena itu, hasil Muscab DPC INSA Surabaya dipandang bukan sekadar menghasilkan ketua baru. Lebih dari itu, forum tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen bersama untuk menjaga daya saing industri pelayaran nasional sekaligus memperkokoh posisi Jawa Timur sebagai salah satu pusat logistik dan perdagangan terpenting di Indonesia.
Stenvens: Pelayaran Adalah Penjaga Kedaulatan Bangsa
Bagi Stenvens Handry Lesawengen, industri pelayaran tidak hanya berbicara mengenai aktivitas mengangkut barang dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Lebih dari itu, transportasi laut merupakan urat nadi yang menjaga konektivitas antarpulau sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia sebagai negara kepulauan.
Saat menyampaikan laporan pertanggungjawaban di hadapan ratusan anggota, Stenvens menegaskan bahwa pelayaran bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan instrumen yang menjaga konektivitas ribuan pulau sekaligus memperkuat kedaulatan ekonomi Indonesia.
“Pelayaran adalah kekuatan yang mempersatukan sekaligus melindungi kedaulatan bangsa. INSA hadir untuk menyatukan dan melindungi segenap potensi maritim negeri. Setiap detik, organisasi ini menciptakan pertumbuhan ekonomi. INSA bisa berdiri dan berkembang tanpa pihak lain, namun banyak pihak yang tidak dapat berjalan tanpa dukungan INSA,” ujar Stenvens.
Pernyataan tersebut mencerminkan besarnya kontribusi industri pelayaran terhadap berbagai sektor ekonomi. Aktivitas distribusi bahan pangan, energi, hasil pertanian, produk industri, hingga komoditas ekspor sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut. Ketika rantai distribusi berjalan baik, roda perekonomian nasional pun ikut bergerak.
Kepercayaan yang kembali diberikan anggota melalui mekanisme aklamasi menjadi modal penting bagi Stenvens untuk melanjutkan program-program strategis organisasi. Ia menilai tantangan dunia pelayaran ke depan akan semakin kompleks seiring meningkatnya tuntutan efisiensi, digitalisasi layanan, serta persaingan industri logistik yang semakin ketat.
Usai ditetapkan kembali sebagai Ketua DPC INSA Surabaya periode 2026–2031, Stenvens menegaskan komitmennya untuk menjaga soliditas organisasi sekaligus memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan di sektor maritim.
“Ke depannya, INSA akan terus tumbuh dan menjadi mitra utama pemerintah. Kami menjaga kebersamaan dan kepentingan seluruh anggota, serta memastikan kedaulatan ekonomi tetap terjaga,” tegasnya.
Menurutnya, organisasi hanya akan kuat jika mampu mengakomodasi seluruh kepentingan anggota. Karena itu, penyusunan kepengurusan baru akan dilakukan secara inklusif dengan melibatkan berbagai perusahaan anggota, baik perusahaan besar maupun pelaku usaha lainnya, sehingga setiap kebijakan yang diambil benar-benar merepresentasikan kebutuhan dunia pelayaran.
Bersama jajaran pengurus yang baru, DPC INSA Surabaya diharapkan tidak hanya menjadi wadah komunikasi antarpelaku usaha, tetapi juga tampil sebagai mitra strategis pemerintah dalam merumuskan berbagai kebijakan yang mendorong kemajuan sektor maritim nasional.
Menuju 2031, INSA Menatap Era Baru Industri Maritim
Kepemimpinan baru DPC INSA Surabaya tidak hanya membawa agenda konsolidasi organisasi, tetapi juga mempersiapkan langkah besar menghadapi perubahan industri maritim yang bergerak semakin cepat. Di tengah meningkatnya tuntutan efisiensi logistik dan digitalisasi layanan kepelabuhanan, organisasi pelayaran dituntut mampu beradaptasi agar tetap menjadi tulang punggung distribusi nasional.
Dalam jangka pendek, DPC INSA Surabaya akan membentuk struktur kepengurusan periode 2026–2031 dengan melibatkan representasi perusahaan-perusahaan anggota dari berbagai segmen usaha. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat sinergi internal sekaligus memastikan setiap kebijakan organisasi lahir dari aspirasi seluruh anggota.
Bersama 17 pengurus lainnya, Stenvens H Lesawengen menyatakan komitmennya menjalankan amanah organisasi dengan mengedepankan profesionalisme, kolaborasi, dan keberlanjutan. Kepengurusan baru juga diarahkan untuk memperkuat komunikasi dengan pemerintah, operator pelabuhan, serta seluruh pemangku kepentingan di sektor kemaritiman.
Rekam jejak DPC INSA Surabaya dalam kancah nasional maupun internasional menjadi modal penting untuk menghadapi tantangan tersebut. Pada 2022, organisasi ini pernah menjadi bagian dari delegasi maritim Indonesia dalam forum International Maritime Organization (IMO), yang menunjukkan keterlibatan aktif pelaku usaha pelayaran nasional dalam mendukung kebijakan kemaritiman di tingkat global.
Selain itu, Stenvens mengungkapkan bahwa anggota DPC INSA Surabaya saat ini menggerakkan sedikitnya 11 sektor bisnis maritim yang saling terintegrasi. Tidak hanya perusahaan pelayaran, tetapi juga mencakup jasa bongkar muat, transportasi darat pendukung logistik, pengelolaan depo peti kemas, pergudangan, hingga berbagai layanan penunjang lain yang menopang aktivitas perdagangan nasional.
Ke depan, organisasi menargetkan penguatan posisi INSA sebagai mitra strategis pemerintah melalui percepatan digitalisasi layanan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta perluasan kerja sama dengan kalangan akademisi dan dunia pendidikan. Kolaborasi tersebut diharapkan melahirkan inovasi yang mampu menjawab perubahan industri pelayaran yang semakin dinamis.
Bagi DPC INSA Surabaya, tantangan lima tahun mendatang bukan hanya menjaga keberlangsungan organisasi, melainkan memastikan sektor pelayaran nasional tetap kompetitif di tengah perubahan lanskap perdagangan global. Efisiensi logistik, pemanfaatan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia akan menjadi fondasi untuk memperkuat daya saing maritim Indonesia.
Lima tahun ke depan menjadi periode yang menentukan bagi industri pelayaran nasional. Ketika pemerintah mendorong efisiensi biaya logistik dan transformasi digital di seluruh pelabuhan, organisasi seperti INSA dituntut tidak hanya menjadi wadah berhimpun para pelaku usaha, tetapi juga mampu melahirkan gagasan yang menjawab perubahan zaman.
Kepercayaan yang kembali diberikan kepada Stenvens bukanlah garis akhir sebuah Muscab, melainkan awal dari babak baru bagi DPC INSA Surabaya dalam menjawab tantangan industri maritim yang terus berubah. Di tengah ambisi Indonesia memperkuat posisinya sebagai negara maritim, keberhasilan organisasi ini kelak tidak hanya diukur dari soliditas internalnya, tetapi juga dari sejauh mana mampu mendorong efisiensi logistik, memperkuat daya saing pelayaran nasional, dan menjaga denyut perdagangan yang menggerakkan perekonomian Jawa Timur.















