SEJARAH KOTA SURABAYA: Dari Pelabuhan Majapahit hingga Menjadi Kota Pahlawan Indonesia
Monumen Tugu Pahlawan

SURABAYA | SIGAP88 – Surabaya merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur sekaligus salah satu kota tertua di Indonesia. Selama lebih dari tujuh abad, kota ini berkembang dari pelabuhan penting pada masa Kerajaan Majapahit, menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa, hingga dikenal sebagai Kota Pahlawan berkat perjuangan rakyatnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dengan posisi strategis di muara Sungai Brantas dan Sungai Kalimas, Surabaya sejak lama menjadi gerbang perdagangan, pelayaran, dan pertemuan berbagai budaya yang membentuk identitasnya hingga saat ini.

Fakta Singkat Kota Surabaya

– Provinsi: Jawa Timur
– Julukan: Kota Pahlawan
– Hari Jadi: 31 Mei 1293
– Sungai Utama: Brantas dan Kalimas
– Luas Wilayah: sekitar 350 kilometer persegi
– Peran Historis: Pelabuhan penting Majapahit, pusat dakwah Islam, dan lokasi Pertempuran 10 November 1945

Asal Usul Nama Surabaya

Nama Surabaya dikenal luas melalui legenda pertarungan antara ikan hiu (Sura) dan buaya (Baya). Cerita rakyat tersebut mengisahkan persaingan dua penguasa wilayah perairan yang akhirnya mencapai kesepakatan untuk membagi daerah kekuasaan masing-masing.

Legenda tersebut kemudian menjadi simbol keberanian, kekuatan, dan semangat pantang menyerah yang hingga kini melekat pada masyarakat Surabaya.

Dalam sumber sejarah, nama Surabhaya juga tercatat dalam Kakawin Negarakertagama yang ditulis Mpu Prapanca pada tahun 1365 Masehi. Saat itu Surabaya dikenal sebagai salah satu kawasan penting dalam jaringan perdagangan Kerajaan Majapahit.

Surabaya pada Masa Majapahit

Pada masa Kerajaan Majapahit, Surabaya berkembang sebagai pelabuhan strategis yang menghubungkan wilayah pedalaman Jawa dengan jalur perdagangan internasional.

Letaknya yang berada di muara Sungai Brantas menjadikan Surabaya sebagai pusat distribusi berbagai komoditas seperti beras, hasil pertanian, kayu, dan rempah-rempah menuju berbagai wilayah Nusantara maupun mancanegara.

Kapal-kapal dagang dari Tiongkok, India, Arab, dan berbagai kawasan Asia diketahui sering berlabuh di wilayah ini untuk melakukan aktivitas perdagangan.

Peran Penting Sungai Kalimas

Perkembangan Surabaya tidak dapat dipisahkan dari Sungai Kalimas yang sejak berabad-abad lalu menjadi jalur transportasi utama masyarakat.

Kalimas berfungsi sebagai penghubung antara kawasan pedalaman dengan pelabuhan di pesisir utara Jawa. Melalui sungai inilah berbagai hasil bumi dan komoditas perdagangan diangkut menuju pusat aktivitas ekonomi.

Keberadaan Kalimas menjadi salah satu faktor utama yang mendorong Surabaya tumbuh sebagai kota perdagangan dan pelayaran penting sejak era Majapahit hingga masa kolonial.

Hari Jadi Surabaya

Hari jadi Surabaya diperingati setiap tanggal 31 Mei. Tanggal tersebut merujuk pada kemenangan pasukan Raden Wijaya atas pasukan Mongol pada tahun 1293 yang kemudian dijadikan tonggak sejarah berdirinya Kota Surabaya.

Surabaya dan Jejak Dakwah Sunan Ampel

Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya
Masjid Agung Sunan Ampel Surabaya Foto: Istimewa

Selain menjadi pusat perdagangan, Surabaya juga memiliki peran besar dalam perkembangan Islam di Nusantara. Pada abad ke-15, Sunan Ampel atau Raden Rahmat datang ke kawasan Ampel Denta yang saat itu masih berada dalam lingkungan Kerajaan Majapahit.

Di wilayah tersebut, Sunan Ampel mendirikan pusat pendidikan dan dakwah Islam yang kemudian berkembang menjadi salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa.

Melalui pendekatan pendidikan, perdagangan, dan pembinaan masyarakat, dakwah Islam berkembang secara damai dan diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.

Komplek Makam Sunan Ampel Surabaya
Komplek Makam Sunan Ampel Surabaya

Hingga kini, jejak sejarah Sunan Ampel masih dapat ditemukan melalui Masjid Ampel dan kompleks makam Sunan Ampel yang menjadi salah satu tujuan wisata religi terpenting di Indonesia.

Menjadi Kekuatan Maritim Nusantara

Setelah kemunduran Kerajaan Majapahit pada abad ke-15, Surabaya tetap berkembang sebagai pusat perdagangan dan pelayaran yang berpengaruh.

Pada abad ke-16 hingga ke-17, Surabaya dikenal sebagai salah satu kekuatan maritim terbesar di kawasan timur Nusantara dengan armada laut yang mampu menjaga jalur perdagangan dan memperkuat posisi politik wilayahnya.

Namun kekuatan tersebut mulai melemah ketika VOC memperluas pengaruhnya di Pulau Jawa hingga akhirnya Surabaya berada di bawah kendali kolonial Belanda pada tahun 1743.

Surabaya pada Era Kolonial Belanda

Kantor Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya
Kantor Syahbandar Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya Di Masa Kolonial

Pada masa kolonial, Surabaya berkembang menjadi pusat perdagangan dan industri terbesar kedua di Hindia Belanda setelah Batavia.

Berbagai infrastruktur modern mulai dibangun, termasuk pelabuhan, jalur kereta api, kawasan industri, dan fasilitas militer yang semakin memperkuat posisi Surabaya sebagai kota strategis.

Pada periode inilah Pelabuhan Tanjung Perak mulai berkembang dan menjadi salah satu pelabuhan utama yang menopang aktivitas perdagangan di kawasan timur Indonesia.

Pertempuran 10 November 1945

Peristiwa paling bersejarah dalam perjalanan Surabaya terjadi setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Ketika pasukan Sekutu yang didampingi Belanda datang ke Surabaya, rakyat menolak upaya yang dianggap sebagai bentuk kembalinya penjajahan.

Pada 10 November 1945, pertempuran besar pecah. Dipimpin oleh Bung Tomo dan didukung ribuan pejuang dari berbagai kalangan, rakyat Surabaya melakukan perlawanan sengit demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Meski menghadapi persenjataan yang jauh lebih modern, semangat juang rakyat Surabaya berhasil menginspirasi bangsa Indonesia untuk terus mempertahankan kemerdekaan.

Atas jasa dan pengorbanan para pejuang tersebut, Surabaya kemudian dikenal sebagai Kota Pahlawan. Tanggal 10 November juga ditetapkan sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Destinasi Sejarah yang Masih Bisa Dikunjungi

Jejak sejarah Surabaya masih dapat ditemukan melalui berbagai bangunan dan kawasan bersejarah, antara lain:

– Tugu Pahlawan
– Jembatan Merah
– Masjid Ampel
– Makam Sunan Ampel
– Kawasan Kota Lama Surabaya
– Sungai Kalimas
– Pelabuhan Tanjung Perak
– Museum Surabaya

Lokasi-lokasi tersebut menjadi saksi perjalanan panjang Surabaya dari masa kerajaan, perkembangan Islam, era kolonial, hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Surabaya Masa Kini

Setelah kemerdekaan, Surabaya terus berkembang menjadi pusat ekonomi, perdagangan, pendidikan, industri, dan jasa di kawasan Indonesia timur.

Keberadaan Pelabuhan Tanjung Perak sebagai salah satu pelabuhan tersibuk di Indonesia serta Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Pulau Madura semakin memperkuat posisi kota ini sebagai pusat konektivitas dan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.

Selama lebih dari tujuh abad, Surabaya telah menjadi saksi perjalanan bangsa, mulai dari kejayaan Majapahit, peran Sungai Kalimas sebagai jalur perdagangan, dakwah Sunan Ampel, perkembangan Pelabuhan Tanjung Perak, hingga heroisme Pertempuran 10 November 1945. Warisan sejarah tersebut menjadikan Surabaya bukan sekadar kota metropolitan, melainkan simbol keberanian, persatuan, dan semangat juang bangsa Indonesia.