Hamrawi bersama warga Rombiya Timur Sumenep
Hamrawi saat berbaur bersama masyarakat di Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep. Kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari aktivitasnya sehari-hari.

SUMENEP | SIGAP88 — Di sebuah desa, kepedulian sering kali tidak hadir dalam bentuk yang besar. Kadang ia hanya berupa seseorang yang datang ketika tetangganya sakit, ikut mengangkat beban saat kerja bakti, atau menyisihkan waktu ketika orang lain sedang membutuhkan bantuan.

Hal-hal sederhana semacam itu yang selama ini melekat pada sosok Hamrawi, warga Desa Rombiya Timur, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep.

Ia bukan orang yang setiap hari berbicara tentang pengabdian. Aktivitasnya sebagai petani dan pelaku usaha tetap menjadi bagian dari kesehariannya. Namun, di sela kesibukan tersebut, Hamrawi berusaha tidak kehilangan ruang untuk berinteraksi dengan lingkungan tempat ia tinggal.

Bagi warga yang mengenalnya, kehadiran Hamrawi bukan sesuatu yang muncul sesekali. Ia dikenal mudah bergaul, terbuka dengan masyarakat, dan tidak sungkan turun langsung dalam berbagai kegiatan di desa.

Subaidi, salah seorang pemuda Rombiya Timur, mengatakan karakter tersebut membuat Hamrawi cukup dekat dengan masyarakat.

“Dirinya mempunyai jiwa yang lembut dan suka menolong. Dia terjun langsung, bahkan selalu berbaur dengan masyarakat melakukan gotong royong,” kata Subaidi, Senin (10/8/2026).

Kepedulian yang Tidak Menunggu Diminta

Di tengah kehidupan masyarakat desa, hubungan antarwarga tidak hanya dibangun melalui pertemuan resmi. Ia tumbuh dari kebiasaan saling memperhatikan.

Ketika ada warga yang sakit, misalnya, bantuan terkadang tidak membutuhkan banyak kata. Mengantar ke puskesmas, menemani, atau sekadar memastikan seseorang tidak menghadapi kesulitannya sendirian, bisa menjadi bentuk kepedulian yang berarti.

Hal semacam itu pula yang disebut warga kerap dilakukan Hamrawi.

Seorang warga yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan, Hamrawi memiliki kebiasaan untuk lebih dulu datang ketika mengetahui ada tetangga yang sedang mengalami kesulitan.

“Yang bikin kami salut, beliau tidak menunggu diminta. Kalau melihat ada warga yang kesusahan, beliau lebih dulu datang,” ujarnya.

Cerita tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, dari kebiasaan-kebiasaan kecil itulah hubungan sosial di sebuah desa dibangun.

Tidak ada panggung. Tidak ada seremoni. Hanya perjumpaan antara warga dengan warga lainnya.

Bukan Soal Jabatan

Kedekatan Hamrawi dengan masyarakat kemudian membuat sebagian warga melihatnya sebagai sosok yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

Bahkan, ada warga yang menilai karakter tersebut merupakan modal penting bagi seseorang yang ingin mengambil peran lebih besar dalam kehidupan masyarakat.

Namun, Hamrawi sendiri memilih melihat persoalan tersebut dari sudut yang berbeda.

Baginya, membantu sesama bukan aktivitas yang baru boleh dilakukan ketika seseorang memiliki jabatan atau kewenangan.

Ia justru memandang kepedulian sebagai bagian dari tanggung jawab setiap orang terhadap lingkungan di sekitarnya.

“Membantu sesama atau tetangga tidak harus menunggu menjadi pejabat. Kita harus berangkat dari hati yang ikhlas membantu orang yang sedang kesusahan,” kata Hamrawi.

Kalimat itu menjadi gambaran sederhana mengenai cara Hamrawi memaknai hubungan dengan masyarakat.

Ia tidak menempatkan jabatan sebagai syarat untuk berbuat sesuatu.

Menurut dia, setiap warga memiliki ruang untuk memberikan kontribusi, meskipun bentuknya berbeda-beda.

“Sebagai warga kita wajib membangun, entah dari pemikiran, tenaga atau materiil,” ujarnya.

Desa Dibangun dari Kedekatan

Bagi Hamrawi, membangun desa tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Ada pekerjaan yang membutuhkan tenaga. Ada persoalan yang membutuhkan pemikiran. Ada pula kondisi tertentu yang cukup dijawab dengan kehadiran dan kepedulian.

Karena itu, keterlibatan dalam kegiatan masyarakat menjadi bagian yang berusaha ia pertahankan di tengah kesibukannya.

Gotong royong, kegiatan pemuda, maupun aktivitas sosial lainnya menjadi ruang bagi Hamrawi untuk tetap berinteraksi dengan warga.

Di sana, jarak antara seseorang dengan masyarakat tidak ditentukan oleh status, melainkan oleh seberapa jauh ia bersedia hadir dan mendengarkan.

Pandangan semacam itu pula yang membuat sejumlah warga Rombiya Timur melihat Hamrawi sebagai sosok yang memiliki kedekatan dengan masyarakat.

Bukan karena sebuah gelar.

Bukan pula karena sebuah jabatan.

Melainkan karena warga mengenalnya dari interaksi yang berlangsung sehari-hari.

Pada akhirnya, cerita tentang Hamrawi bukan semata tentang seorang warga yang gemar membantu tetangganya. Lebih dari itu, ia menjadi potret kecil tentang bagaimana kepedulian masih menemukan tempat dalam kehidupan masyarakat desa.

Sebab terkadang, membangun sebuah desa memang tidak selalu dimulai dari kantor pemerintahan atau sebuah program besar.

Ia bisa dimulai dari hal yang jauh lebih sederhana: mau melihat, mau mendengar, dan bersedia hadir ketika orang lain membutuhkan.

📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN