
KEDIRI | SIGAP88 — Pergantian nama kecil Sang Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia, Ir. Soekarno, dari Koesno menjadi Soekarno diperingati melalui kegiatan budaya bertajuk Ruwat Agung Soekarno di Situs Persada Soekarno Ndalem Pojok, Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Minggu (14 Juni 2026).
Kegiatan ini merupakan inisiatif pengelola situs bersejarah tersebut bersama Perkumpulan Instruktur Penggiat Jati Diri Bangsa (PIPJATBANG).
Lebih dari sekadar seremonial budaya, peringatan ini diharapkan menjadi ruang refleksi bagi berbagai elemen bangsa untuk menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan, karakter, dan jati diri yang diwariskan Bung Karno.
Suasana kegiatan berlangsung sejak pagi hari. Acara dihadiri Ketua Dewan Pengarah PIPJATBANG Brigjen Pol. Langgeng Purnomo yang juga menjabat sebagai Karobinkar SSDM Polri, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Kediri, serta para Kapolres eks wilayah Polwil Kediri, termasuk Kapolres Jombang AKBP Ardi Kurniawan.
Turut hadir pula tokoh lintas agama, budayawan, masyarakat, serta pelajar.
Tempat Kelahiran Sebuah Nama Besar
Ketua Panitia Pelaksana, R.M. Kushartono, menjelaskan bahwa Ndalem Pojok menyimpan jejak sejarah penting dalam perjalanan hidup Bung Karno. Di tempat inilah nama Soekarno disematkan oleh Raden Mas Mendung atas restu sesepuh agung Raden Mas Panji Somohatmojo, menggantikan nama kecilnya Koesno.
“Ruwat Agung Soekarno bukan sekadar acara seremonial biasa. Ini adalah upaya sadar membangkitkan kembali karakter dan mentalitas bangsa yang belakangan ini mulai memudar tergerus zaman,” ujar Kushartono.
Ia berharap melalui kegiatan ini, jiwa kepemimpinan, semangat kebangsaan, dan cinta tanah air ala Bung Karno dapat tumbuh kembali di kalangan generasi muda untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Rangkaian kegiatan diawali dengan Doa Pangruwatan Bangsa yang dipimpin bersama oleh tokoh lintas agama. Acara kemudian dilanjutkan dengan kirab budaya mengarak tumpeng keselamatan, prosesi Panglukatan (penyucian) patung Soekarno, peresmian monumen pergantian nama, penandatanganan prasasti, hingga penampilan teatrikal berjudul Kembang Jagad.
Trisakti dan Semangat Kemandirian Nasional

Dalam sambutannya, Brigjen Pol. Langgeng Purnomo menegaskan pentingnya kembali kepada akar jati diri bangsa sebagai fondasi pembangunan nasional.
Ia mengingatkan konsep Trisakti warisan Bung Karno, yakni berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.
Menurutnya, dinamika geopolitik dunia saat ini menuntut Indonesia memperkuat kemandirian. Semangat tersebut sejalan dengan misi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang mengutamakan swasembada pangan, energi, air, teknologi, hingga hilirisasi industri nasional.
“Setiap negara kini semakin mengutamakan kepentingan nasionalnya agar bebas dari tekanan pihak lain. Oleh sebab itu, kedaulatan politik harus dibarengi dengan kemandirian ekonomi yang dibangun atas dasar semangat gotong royong,” ujar Langgeng.
Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengabaikan aspek budaya dan moral.
“Solusinya sederhana, yaitu kembali kepada jati diri bangsa. Makna lagu Indonesia Raya mengandung pesan ‘bangunlah jiwanya, bangunlah badannya’. Artinya, kita harus membangun jiwa yang berkarakter sekaligus membangun kemajuan ragawi,” pungkasnya.
Melalui peringatan ini, para peserta diajak mengenang kembali perjalanan sejarah serta nilai-nilai kebangsaan yang diwariskan oleh Presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

















