Tradisi Jharan Kencak mengarak anak khatam Al-Qur'an di Desa Karduluk, Pragaan, Kabupaten Sumenep.
Seorang anak diarak menaiki Jharan Kencak usai khatam Al-Qur'an 30 juz dalam tradisi masyarakat Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep. Tradisi ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penghormatan atas keberhasilan menuntaskan pendidikan Al-Qur'an.

SUMENEP | SIGAP88 — Di sebuah sudut Pulau Madura, tepatnya di Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, gema lantunan ayat suci Al-Qur’an tidak berhenti ketika seorang anak menamatkan bacaan 30 juz. Sebaliknya, momen itu justru menjadi awal sebuah perayaan penuh makna yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat.

Tradisi itu dikenal dengan nama Jharan Kencak, sebuah prosesi arak-arakan yang menggabungkan nilai religius, seni budaya, dan rasa syukur dalam satu rangkaian yang memikat perhatian.

Ketika seorang anak dinyatakan khatam Al-Qur’an, keluarga tidak sekadar menggelar doa bersama. Mereka mengangkat sang anak layaknya tamu kehormatan dengan menaikkannya di atas seekor kuda berhias indah untuk diarak mengelilingi kampung. Di sepanjang perjalanan, warga berdiri di tepi jalan menyaksikan prosesi yang telah menjadi identitas budaya masyarakat Karduluk selama puluhan tahun.

Bagi masyarakat setempat, Jharan Kencak bukan sekadar tontonan rakyat. Tradisi ini merupakan simbol penghormatan terhadap ilmu agama sekaligus ungkapan syukur orang tua atas keberhasilan putra-putrinya menuntaskan pendidikan membaca Al-Qur’an.

Sejarah dan Makna Tradisi

Di balik kemeriahan arak-arakan, Jharan Kencak menyimpan filosofi yang begitu mendalam. Tradisi ini lahir dari keyakinan masyarakat bahwa keberhasilan seorang anak mengkhatamkan Al-Qur’an merupakan nikmat besar yang layak disyukuri, bukan hanya oleh keluarga, tetapi juga oleh lingkungan sekitarnya.

Karena itu, prosesi tidak digelar secara sederhana. Orang tua mengundang keluarga besar, tetangga, guru mengaji, tokoh agama, hingga masyarakat sekitar untuk bersama-sama menjadi saksi rasa syukur tersebut.

Sang anak kemudian diarak menaiki Jharan Kencak, seekor kuda yang telah dilatih khusus agar mampu melangkah mengikuti irama musik pengiring. Arak-arakan berkeliling kampung sambil mengunjungi rumah sanak saudara, para sesepuh desa, dan tokoh masyarakat yang selama ini dihormati.

Kunjungan tersebut bukan sekadar tradisi silaturahmi. Di dalamnya terkandung nilai penghormatan kepada orang-orang yang dianggap berjasa dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus menjadi doa agar anak yang telah menamatkan Al-Qur’an tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, menghormati orang tua, guru, serta menjaga nilai-nilai agama dalam kehidupannya.

Bagi masyarakat Desa Karduluk, tradisi ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan agama tidak boleh berhenti di ruang mengaji semata. Keberhasilan itu patut dirayakan agar menjadi inspirasi bagi anak-anak lainnya untuk terus belajar membaca, memahami, dan mengamalkan Al-Qur’an.

Irama Budaya yang Menyatukan Warga

Daya tarik Jharan Kencak tidak hanya terletak pada prosesi mengarak anak yang telah khatam Al-Qur’an. Lebih dari itu, tradisi ini menghadirkan perpaduan harmonis antara seni pertunjukan, nilai religius, dan kebersamaan masyarakat yang telah diwariskan lintas generasi.

Seekor kuda yang menjadi pusat perhatian telah dipersiapkan dan dilatih secara khusus. Dengan langkah-langkah yang teratur, kuda itu seolah menari mengikuti hentakan musik yang mengiringi perjalanan arak-arakan.

Iringan drumband maupun tong-tong serek, musik tradisional khas Madura yang bertabuh ritmis, menghadirkan suasana semarak sepanjang rute yang dilalui. Dentuman alat musik berpadu dengan gemerincing lonceng yang terpasang di kaki kuda, menciptakan harmoni suara yang menjadi ciri khas setiap prosesi Jharan Kencak.

Kuda pun tampil anggun dengan balutan kain berwarna-warni, hiasan kepala, kalung ornamen, hingga aksesoris khas yang memperkuat kesan sakral sekaligus artistik. Di atas punggungnya, sang anak duduk mengenakan busana terbaiknya, menjadi simbol kebanggaan keluarga atas keberhasilannya menamatkan bacaan Al-Qur’an.

Sepanjang perjalanan, warga berbondong-bondong keluar rumah. Anak-anak, orang tua, hingga para lansia memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan prosesi yang tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga menjadi ruang silaturahmi dan kebersamaan antarwarga.

Bagi masyarakat Desa Karduluk, kemeriahan itu bukanlah tujuan utama. Yang paling penting adalah pesan yang diwariskan di balik tradisi tersebut, bahwa belajar Al-Qur’an adalah kehormatan yang layak dirayakan, dan setiap anak yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama pantas mendapatkan apresiasi dari keluarga maupun masyarakat.

Menjaga Warisan, Menanamkan Cinta Al-Qur’an

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, masyarakat Desa Karduluk tetap berupaya menjaga Jharan Kencak agar tidak sekadar menjadi kenangan masa lalu. Tradisi ini terus diwariskan sebagai bagian dari identitas budaya yang menyatu dengan nilai-nilai keagamaan dan kehidupan sosial masyarakat.

Bagi para orang tua, mengarak anak yang telah khatam Al-Qur’an bukanlah tentang kemewahan sebuah perayaan. Prosesi tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus bentuk penghargaan atas ketekunan anak dalam menuntut ilmu agama sejak usia dini.

Tradisi ini juga menjadi motivasi bagi anak-anak lain yang masih belajar mengaji di musala, surau, maupun madrasah. Melihat teman sebayanya diarak dengan penuh kebanggaan menjadi penyemangat agar mereka semakin giat membaca Al-Qur’an hingga kelak mampu menamatkan 30 juz.

Di sisi lain, Jharan Kencak memiliki peran penting dalam mempererat hubungan sosial masyarakat. Arak-arakan yang melintasi kampung menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar, tetangga, guru mengaji, hingga tokoh masyarakat dalam suasana penuh kebersamaan dan doa.

Lebih dari sekadar seni pertunjukan, Jharan Kencak adalah bukti bahwa budaya lokal dan ajaran agama dapat berjalan beriringan, saling menguatkan, serta menjadi warisan yang membentuk karakter generasi muda.

Di Desa Karduluk, Jharan Kencak bukan hanya mengiringi langkah seekor kuda yang menari mengikuti irama musik. Tradisi ini mengiringi lahirnya generasi yang mencintai Al-Qur’an, menghormati guru, menjaga silaturahmi, dan bangga terhadap warisan budaya leluhurnya.