Edukasi pranikah diberikan agar calon pasangan memahami pentingnya pemenuhan gizi, kesehatan reproduksi, dan pola pengasuhan sejak masa persiapan kehamilan hingga 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
SUMENEP | SIGAP88 — Upaya menekan angka stunting di Kabupaten Sumenep tidak hanya difokuskan pada ibu hamil maupun balita. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep mulai memperkuat langkah pencegahan sejak masa pra-pernikahan dengan memberikan edukasi kepada calon pengantin (catin).
Program tersebut diwujudkan melalui sosialisasi pencegahan stunting yang digelar di halaman Kantor Dinkes P2KB Sumenep, Jumat (31/7/2026). Kegiatan menghadirkan konselor dari Lembaga Konseling Lentera Batin, Moh. Ilham, yang memberikan pembekalan kepada para calon pengantin mengenai pentingnya membangun keluarga sehat sebagai fondasi lahirnya generasi berkualitas.
Dalam pemaparannya, Ilham menegaskan bahwa pencegahan stunting harus dimulai jauh sebelum seorang anak dilahirkan. Menurutnya, kesiapan calon ayah dan ibu dalam memahami kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, hingga pola pengasuhan menjadi faktor penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan anak.
“Pencegahan stunting paling utama dilakukan sejak masa 1.000 hari pertama kehidupan yang dimulai dari awal kehamilan hingga anak berumur dua tahun,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pasangan yang akan menikah perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu sejak sebelum kehamilan, selama masa kehamilan, hingga proses persalinan. Dengan bekal pengetahuan tersebut, pasangan diharapkan mampu menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Menurutnya, pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif kedua pasangan dalam memenuhi kebutuhan gizi, menjaga kesehatan, dan memberikan perhatian selama masa kehamilan maupun setelah kelahiran anak.
Dalam sesi sosialisasi, Ilham memaparkan bahwa keberhasilan mencegah stunting sangat ditentukan oleh kesiapan calon orang tua dalam memenuhi kebutuhan gizi dan menjaga kesehatan sejak awal kehamilan. Karena itu, calon pengantin didorong memahami berbagai langkah sederhana namun memiliki dampak besar terhadap tumbuh kembang anak.
Ia menjelaskan, calon ibu perlu membiasakan diri mengonsumsi tablet tambah darah sesuai anjuran tenaga kesehatan untuk mencegah anemia yang berpotensi memengaruhi kondisi janin. Selain itu, pemeriksaan kehamilan secara rutin juga menjadi bagian penting dalam memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin sejak dini.
Tak kalah penting, kebutuhan gizi keluarga harus dipenuhi dengan mengonsumsi makanan bergizi seimbang, terutama sumber protein hewani yang berperan besar dalam mendukung pertumbuhan janin dan perkembangan otak anak.
Setelah bayi lahir, orang tua juga diingatkan agar memberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif selama enam bulan pertama, rutin membawa anak ke posyandu setiap bulan, serta memantau pertumbuhan dan perkembangan balita secara berkala.
“Langkah ini diharapkan mampu menekan terjadinya stunting kepada anak,” kata Ilham.
Menurutnya, pencegahan stunting akan lebih efektif apabila calon suami dan istri memiliki komitmen yang sama untuk saling mendukung dalam menjaga kesehatan keluarga. Keterlibatan ayah, mulai dari masa kehamilan hingga pengasuhan anak, dinilai memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang sehat bagi tumbuh kembang buah hati.
Melalui pembekalan tersebut, para calon pengantin diharapkan tidak hanya siap memasuki kehidupan rumah tangga, tetapi juga memahami tanggung jawab sebagai orang tua dalam melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas dari stunting.
Program edukasi tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Mereka menilai materi yang disampaikan tidak hanya memberikan pengetahuan tentang pencegahan stunting, tetapi juga menjadi bekal penting dalam membangun kehidupan rumah tangga yang sehat dan bertanggung jawab.
Salah seorang peserta, Romlah, warga Desa Kolor, Kecamatan Kota Sumenep, mengaku memperoleh banyak wawasan baru terkait pentingnya menjaga kesehatan sejak masa persiapan pernikahan hingga kehamilan.
“Sosialisasi ini sangat bermanfaat bagi kami sebagai calon pengantin. Kami jadi lebih memahami bagaimana membangun keluarga yang sehat dan mencegah stunting pada anak sejak dini,” tuturnya.
Dinkes P2KB Sumenep berharap edukasi kepada calon pengantin dapat menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat upaya pencegahan stunting dari hulu. Dengan meningkatnya pemahaman pasangan yang akan membangun rumah tangga, diharapkan kesadaran terhadap pentingnya pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan, dan pola pengasuhan anak juga semakin meningkat.
Pendekatan tersebut dinilai sejalan dengan upaya pemerintah menekan prevalensi stunting melalui langkah-langkah promotif dan preventif. Pencegahan sejak sebelum kehamilan diharapkan mampu melahirkan generasi yang lebih sehat, tumbuh optimal, dan memiliki kualitas sumber daya manusia yang lebih baik di masa depan.
Melalui kampanye yang menyasar calon pengantin, Dinkes P2KB Sumenep ingin menegaskan bahwa pencegahan stunting bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan peran aktif seluruh keluarga sejak awal membangun rumah tangga. Dengan sinergi tersebut, cita-cita mewujudkan generasi bebas stunting di Kabupaten Sumenep diharapkan dapat tercapai secara berkelanjutan.
Pencegahan stunting menjadi salah satu program prioritas pemerintah karena berkaitan langsung dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Stunting tidak hanya memengaruhi pertumbuhan fisik anak, tetapi juga berisiko menghambat perkembangan otak, kemampuan belajar, hingga produktivitas saat memasuki usia dewasa.
Karena itu, edukasi kepada calon pengantin dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat pencegahan sejak hulu. Dengan pemahaman yang memadai mengenai kesehatan reproduksi, pemenuhan gizi, serta pola pengasuhan anak, pasangan yang akan membangun rumah tangga diharapkan lebih siap menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan generasi yang tumbuh optimal.
Melalui kampanye tersebut, Dinkes P2KB Kabupaten Sumenep menegaskan bahwa keberhasilan menekan angka stunting tidak hanya bergantung pada layanan kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat sejak sebelum pernikahan.
Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, dan masyarakat diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan stunting secara berkelanjutan. Dengan langkah tersebut, Kabupaten Sumenep optimistis dapat melahirkan generasi yang lebih sehat, cerdas, dan berkualitas sebagai modal utama pembangunan daerah di masa mendatang.
















