
SUMENEP | SIGAP88 – Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengimbau seluruh masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan, terhadap potensi bencana alam yang bisa terjadi akibat cuaca ekstrem menjelang pergantian tahun 2025 ke 2026.
“Masyarakat harus waspada terhadap perubahan musim yang potensi terjadinya bencana alam,” kata Bupati Sumenep, Achmad Fauzi. Kamis (4/12/2025).
Maka dari itu, masyarakat harus berperan aktif dalam meningkatkan kewaspadaan bencana alam, ”karena pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dalam upaya mitigasi dan pencegahan bencana, sehingga membutuhkan kebersamaan untuk meminimalkan risiko bencana alam” ujarnya
Bahkan Bupati Fauzi mengajak kepada masyarakat untuk selalu gotong royong membersihkan saluran air, tidak membuang sampah sembarangan yang mengakibatkan tersumbatnya saluran
Selai itu, Bupati juga mengimbau kepada masyarakat untuk memangkas pohon yang potensi roboh atau tumbang, serta selalu waspada apabila ada hujan deras dan angin.
”Kalau ada kejadian yang potensi bencana segera lapor ke petugas kecamatan setempat atau melalui call center 112,” terangnya
Bupati Sumenep juga mengimbau kepada masyarakat yang akan bepergian jauh saat libur akhir tahun hendaknya selalu memperhatikan informasi cuaca dan kondisi lingkungan.
“Kami himbau seluruh masyarakat tetap tenang, tidak panik, namun tetap waspada dan disiplin dalam menjaga keselamatan diri dan lingkungan sekitar selama periode akhir tahun,” imbaunya.
Sementara itu, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani mengatakan, jenis bencana yang mendominasi, yaitu hujan ekstrem, angin kencang, serta fenomena lain seperti petir merusak, puting beliung, hujan es, dan jarak pandang terbatas yang kerap mengganggu penerbangan maupun pelayaran.
”Sesuai perkiraan BMKG untuk Minggu ke dua bulan Desember 2025 hingga bulan Januari 2026 memperkirakan Monsoon Asia mulai aktif” kata Teuku Faisal
Sehingga meningkatkan curah hujan di Indonesia, munculnya anomali atmosfer Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang memicu hujan ekstrem, hingga hadirnya seruak dingin Siberia yang turut memperkuat intensitas hujan dan Bibit siklon tropis berpotensi tumbuh di wilayah selatan Indonesia.
”Pada 28 Desember 2025 hingga 10 Januari 2026, hampir seluruh wilayah Pulau Jawa, Bali, NTT, NTB, hingga sebagian Sulawesi Selatan dan Papua Selatan berpotensi mengalami hujan tinggi hingga sangat tinggi (300-500 milimeter per bulan),” terangnya.












