Ringkasan Berita:
- Sebanyak 200 relawan kebencanaan dari berbagai daerah di Jawa Timur menjalani pemeriksaan kesehatan.
- Pemeriksaan mencakup kondisi fisik dan mental, mengingat relawan menghadapi beban kerja dan tekanan tinggi saat bertugas.
- BPBD Jatim bersama BRIN, Chiba Institute of Science Jepang, dan Universitas Budi Luhur menyiapkan hasil pemeriksaan sebagai bahan kajian perlindungan relawan.
SURABAYA | SIGAP88 — Di tengah tingginya risiko yang dihadapi relawan dalam setiap penanganan bencana, perhatian terhadap kondisi kesehatan mereka menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.
Hal itu mendorong Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Chiba Institute of Science (CIS) Jepang, dan Universitas Budi Luhur untuk memberikan layanan pemeriksaan kesehatan bagi relawan kebencanaan di Jawa Timur.
Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari, 19–21 Agustus 2026, di Aula Taman Edukasi Bencana BPBD Jatim, Surabaya. Sebanyak 200 relawan kebencanaan dari berbagai daerah di Jawa Timur mengikuti pemeriksaan kesehatan tersebut.
Pembukaan kegiatan digelar pada Rabu (19/8/2026) dan dihadiri Koordinator Tim CIS Jepang Ryo Tanaka, peneliti utama BRIN Ma’mun Nuryana, serta perwakilan Universitas Budi Luhur.
Dari BPBD Jatim hadir Sekretaris BPBD Jatim Andhika N. Sudigda dan Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Deni Kiki Melia Tamara. Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto juga turut hadir dan menyapa tim peneliti serta para relawan.
Ryo Tanaka mengatakan, pemeriksaan kesehatan tersebut dilakukan untuk mengetahui kondisi fisik sekaligus psikologis para relawan yang selama ini terlibat dalam berbagai operasi penanggulangan bencana.
Menurutnya, tugas kemanusiaan yang dijalankan relawan sering kali membuat aspek kesehatan pribadi berada di urutan belakang. Padatnya aktivitas di lapangan, waktu istirahat yang terbatas, pola makan yang tidak teratur, hingga beban pekerjaan dapat memengaruhi kondisi tubuh maupun mental.
“Kita akan melakukan cek kesehatan, baik fisik maupun mental. Karena beban kerja yang berat kadang juga berdampak pada psikologis seseorang,” ujar Ryo Tanaka.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena relawan merupakan salah satu unsur penting dalam penanganan berbagai kejadian bencana. Mereka berada di lapangan ketika masyarakat membutuhkan bantuan, termasuk dalam situasi yang memiliki risiko tinggi.
BPBD Jatim menilai pemeriksaan kesehatan tidak hanya penting untuk mengetahui kondisi relawan saat ini, tetapi juga dapat menjadi langkah awal untuk menyusun rekomendasi mengenai perlindungan kesehatan mereka ke depan.
Gatot Soebroto menyampaikan apresiasi atas kolaborasi yang kembali dilakukan bersama tim dari Jepang, BRIN, dan Universitas Budi Luhur.
Menurutnya, kerja sama tersebut bukan kali pertama dilakukan. Kolaborasi serupa terus dikembangkan seiring dengan karakteristik Jawa Timur yang memiliki potensi bencana cukup beragam.
“Selain dampak fisik, tentu juga ada dampak psikologis akibat padatnya aktivitas mereka dan beban hidup keluarga yang kerap mereka tinggalkan,” kata Gatot.
Ia menilai kondisi tersebut perlu mendapatkan perhatian karena relawan tidak hanya menghadapi risiko ketika berada di lokasi bencana, tetapi juga harus menjaga kondisi fisik dan mental agar tetap mampu menjalankan tugas kemanusiaan.
Pemeriksaan yang berlangsung selama tiga hari itu diharapkan menghasilkan gambaran mengenai kondisi kesehatan relawan kebencanaan di Jawa Timur.
Hasil tersebut selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan kajian dan rekomendasi untuk memperkuat upaya pencegahan, perlindungan, serta pemeliharaan kesehatan relawan dalam menjalankan tugas penanggulangan bencana.
Bagi BPBD Jatim, relawan bukan sekadar unsur pendukung dalam operasi kebencanaan. Mereka merupakan bagian penting dari sistem penanggulangan bencana yang juga membutuhkan perlindungan dan perhatian, terutama terhadap kesehatan fisik maupun psikologis setelah berada di tengah situasi bencana.
















