Emil Dardak dan Raja Juli Antoni meninjau kebakaran Gunung Bromo
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak bersama Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo, Minggu (9/8/2026). Pemerintah mengerahkan personel darat dan tiga helikopter untuk operasi water bombing.

PROBOLINGGO | SIGAP88 — Upaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Gunung Bromo terus dilakukan secara intensif. Medan terjal, angin kencang, serta sejumlah titik yang sulit dijangkau dari darat membuat operasi pemadaman mengandalkan kombinasi pasukan darat dan teknologi udara.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, operasi pemadaman saat ini diprioritaskan pada dua kawasan yang menjadi titik perhatian, yakni Pundak Lembu di sisi timur puncak B29 dan kawasan Watangan di bagian barat.

Menurut Emil, kondisi medan menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kebakaran. Sejumlah lokasi bahkan tidak memungkinkan dijangkau langsung oleh personel maupun kendaraan pemadam.

Karena itu, tiga unit helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing, dengan menjatuhkan air langsung ke kawasan yang terbakar.

“Upaya penanganan kebakaran Gunung Bromo medannya sangat menantang. Ada titik yang tidak bisa dijangkau personel maupun kendaraan,” kata Emil saat meninjau lokasi, Minggu (9/8/2026).

B29 Jadi Prioritas Pemadaman

Kawasan Pundak Lembu di puncak B29 menjadi salah satu fokus utama operasi. Luasan area yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 500 hektare. Sementara itu, tambahan area yang terbakar sejak sehari sebelumnya hingga Minggu pagi diperkirakan mencapai sekitar 250 hektare.

Namun, pemerintah memastikan angka tersebut masih terus dipantau karena tidak seluruh kawasan terdampak mengalami kebakaran total.

Operasi udara juga diarahkan ke kawasan Penanjakan. Untuk mendukung water bombing, sumber air diambil dari Ranu Pani dan Ranu Regulo.

“Satu titik di B29 sudah dilakukan water bombing, lalu dilanjutkan ke Penanjakan,” ujar Emil.

Tantangan lain datang dari kondisi angin yang cukup kencang. Pergerakan api dikhawatirkan menjadi lebih sulit diprediksi, terutama di kawasan yang dipenuhi vegetasi kering.

Jalur kaldera Tengger yang memiliki lebar sekitar 18 meter juga menjadi perhatian. Petugas mengantisipasi kemungkinan api melompati jalur tersebut dan menjalar ke kawasan alang-alang di sekitarnya.

Sebagai langkah antisipasi, jalur siaga yang lebih pendek menuju Penanjakan disiapkan untuk memperkuat upaya pengendalian apabila api bergerak ke arah tersebut.

Ratusan Personel dan Tujuh Unit Damkar Dikerahkan

Tim Gabungan Penanganan Kebakaran Gunung Bromo
Tim Gabungan Penanganan Kebakaran Gunung Bromo Mengikuti Koordinasi Operasi Pemadaman Dan Pengendalian Karhutla. Sejumlah Unsur Dikerahkan Untuk Mengantisipasi Meluasnya Kebakaran.

Operasi pemadaman dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, serta personel Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).

Sekitar 200 personel dikerahkan bersama tujuh unit mobil pemadam kebakaran dan tiga helikopter yang digunakan untuk operasi water bombing.

Penanganan tidak hanya difokuskan pada titik api aktif. Area yang telah berhasil dipadamkan juga tetap dijaga untuk mengantisipasi munculnya kembali bara api atau titik panas.

BPBD Jawa Timur turut mengoperasikan drone sprayer berkapasitas sekitar 70 liter. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu mendinginkan area yang masih menyisakan bara atau mengeluarkan kepulan asap.

Strategi ini menjadi bagian dari upaya mempercepat pendinginan sekaligus mencegah api kembali membesar.

TNBTS Ditutup Total

Di tengah operasi pemadaman, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menginstruksikan penutupan total kawasan TNBTS.

Penutupan dilakukan agar seluruh sumber daya yang tersedia dapat difokuskan pada penanganan kebakaran. Selain itu, langkah tersebut bertujuan mencegah munculnya sumber api baru serta menjaga keselamatan masyarakat dan pengunjung.

Raja Juli mengatakan, kondisi cuaca pada Minggu cukup cerah sehingga operasi pemadaman melalui udara dapat dilakukan secara maksimal.

“Hari ini cuaca cerah dan sudah dilakukan 30 kali water bombing sehingga titik api bisa segera dipadamkan,” ujar Raja Juli.

Menurut dia, operasi modifikasi cuaca belum dapat dilakukan dalam waktu dekat. Berdasarkan perhitungan BMKG, kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga sekitar 10 hari ke depan.

Dengan demikian, strategi pemadaman untuk sementara mengandalkan kekuatan pasukan darat dan operasi water bombing.

Jalur Evakuasi Disiapkan

Selain pemadaman, aspek keselamatan warga di sekitar kawasan B29 menjadi perhatian pemerintah.

Jalur evakuasi telah disiapkan dan pemantauan dilakukan selama 24 jam. Hingga Minggu, evakuasi warga belum diperlukan karena jarak titik api masih dinilai berada dalam kondisi relatif aman.

Meski demikian, masyarakat diminta tetap meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti setiap informasi maupun arahan dari petugas di lapangan.

Pemerintah bersama seluruh unsur yang terlibat terus memperkuat pemadaman dan pengawasan di kawasan terdampak. Langkah tersebut dilakukan agar api segera terkendali dan tidak menjalar ke wilayah lain di kawasan Gunung Bromo.

📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN