Kepala Puskesmas Gayam, Encung Haryono
Kepala Puskesmas Gayam, Encung Haryono

SUMENEP | SIGAP88 — Upaya menekan penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kepulauan terus diperkuat. Puskesmas Gayam, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, menghadirkan inovasi Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (Gerpas Amuk) sebagai langkah cepat mencegah meluasnya penularan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Kepala Puskesmas Gayam, Encung Haryono, menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian dari strategi pelayanan kesehatan yang mengedepankan respons cepat ketika ditemukan pasien dengan dugaan DBD.

“Gerpas Amuk kami hadirkan untuk menekan penyebaran penyakit demam berdarah. Begitu ada pasien dengan gejala yang mengarah ke DBD, kami melakukan pemeriksaan di Unit Gawat Darurat sebagai langkah awal penanganan,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Apabila hasil pemeriksaan mengarah pada kasus DBD, tim Puskesmas segera melaksanakan tindakan lanjutan berupa pengasapan (fogging) di sekitar lokasi pasien dengan cakupan radius sekitar 100 meter.

Selain fogging, petugas juga membagikan bubuk abate kepada masyarakat untuk ditempatkan pada penampungan air serta memberikan edukasi mengenai penerapan gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta berbagai langkah pencegahan lainnya.

Menurut Encung, keberhasilan pengendalian DBD tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan semata. Karena itu, Puskesmas Gayam melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah desa, TNI, Polri hingga masyarakat dalam pelaksanaan Gerpas Amuk.

“Kami berkolaborasi dengan seluruh pihak agar upaya pencegahan DBD dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Ia berharap inovasi tersebut mampu menekan angka kasus DBD sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Perkuat Deteksi dan Pengobatan Tuberkulosis

Selain fokus pada pencegahan DBD, Puskesmas Gayam juga memperkuat layanan penanggulangan Tuberkulosis (TB). Langkah yang dilakukan meliputi skrining terhadap warga yang memiliki gejala hingga pemeriksaan dahak (sputum) menggunakan fasilitas laboratorium yang tersedia di puskesmas.

“Kami melakukan skrining dan pemeriksaan sputum bagi pasien yang diduga mengalami TB. Jika hasilnya positif, pasien akan menjalani pengobatan secara gratis selama enam bulan sesuai standar pelayanan,” jelas Encung.

Tidak hanya pasien, petugas kesehatan juga melakukan investigasi kontak terhadap anggota keluarga maupun warga yang memiliki risiko terpapar agar penularan dapat dideteksi sejak dini.

Respons Cepat untuk Keselamatan Ibu dan Bayi

Dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak, Puskesmas Gayam juga menerapkan sistem deteksi dini terhadap kehamilan berisiko tinggi. Setiap kondisi kegawatdaruratan obstetri segera ditangani oleh tenaga medis sebelum diputuskan tindakan rujukan ke rumah sakit.

“Apabila ditemukan kehamilan dengan risiko tinggi, kami segera menyiapkan proses rujukan agar ibu mendapatkan penanganan yang lebih lengkap di rumah sakit sehingga keselamatan ibu dan bayi dapat terjaga,” tegasnya.

Melalui berbagai inovasi tersebut, Puskesmas Gayam berupaya memperkuat akses layanan kesehatan bagi masyarakat Pulau Sapudi, mulai dari pencegahan penyakit menular hingga peningkatan keselamatan ibu dan anak.