Direktur Utama PT DABN Andri Irawan dan Ketua DPC INSA Surabaya Stevens Handry Lesawengen usai menandatangani MoU pengembangan Pelabuhan Probolinggo di Surabaya.
Direktur Utama PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN), Andri Irawan (kanan), bersama Ketua DPC Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya, Stevens Handry Lesawengen (kiri), menunjukkan dokumen usai menandatangani nota kesepahaman (MoU) pengembangan Pelabuhan Probolinggo di Surabaya, Jumat (31/7/2026). Kerja sama tersebut diharapkan memperkuat konektivitas logistik sekaligus mendorong Pelabuhan Probolinggo menjadi simpul distribusi baru di Jawa Timur. Foto: Don/SIGAP88

SURABAYA | SIGAP88 — Peta logistik di Jawa Timur berpotensi memasuki babak baru. Di tengah tingginya aktivitas distribusi barang yang selama ini terpusat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Pelabuhan Probolinggo mulai diproyeksikan sebagai alternatif untuk mendukung kelancaran arus barang di kawasan timur Pulau Jawa.

Langkah tersebut ditandai dengan terjalinnya kerja sama strategis antara PT Delta Artha Bahari Nusantara (DABN) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Indonesian National Shipowners Association (INSA) Surabaya melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang berlangsung di Surabaya, Jumat (31/7/2026).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Ketua DPC INSA Surabaya, Stevens Handry Lesawengen, bersama Direktur Utama PT DABN, Andri Irawan, sebagai langkah awal membangun sinergi pengembangan Pelabuhan Probolinggo agar semakin kompetitif dalam melayani kebutuhan industri pelayaran dan logistik nasional.

Usai penandatanganan, Andri mengungkapkan dirinya datang langsung dari Probolinggo untuk menjalin kolaborasi dengan INSA Surabaya. Menurutnya, kemitraan tersebut menjadi momentum memperkenalkan berbagai potensi yang dimiliki Pelabuhan Probolinggo kepada para pemilik kapal maupun perusahaan pelayaran.

Ia berharap, semakin banyak pelaku usaha yang mengetahui bahwa Pelabuhan Probolinggo telah siap melayani aktivitas bongkar muat dan distribusi barang.

“Kami harapkan pemilik kapal tahu bahwa barang-barangnya bisa masuk melalui Pelabuhan Probolinggo,” ujarnya.

Andri menjelaskan, salah satu keunggulan utama Pelabuhan Probolinggo adalah memiliki kedalaman alur pelayaran (draft) mencapai sekitar 11 meter. Kondisi tersebut memungkinkan pelabuhan melayani kapal-kapal berukuran besar, termasuk kapal yang beroperasi pada jalur internasional.

Selain itu, Pelabuhan Probolinggo juga telah mengantongi sertifikasi International Ship and Port Facility Security (ISPS) Code, sebuah standar keamanan internasional yang menjadi salah satu syarat penting dalam aktivitas kepelabuhanan.

“Draft kami cukup dalam, yakni 11 meter. ISPS Code juga sudah ada sehingga kapal internasional bisa sandar,” jelasnya.

Tak hanya dari sisi infrastruktur, Andri menilai akses menuju kawasan pelabuhan juga menjadi nilai tambah. Menurutnya, jalur transportasi menuju Pelabuhan Probolinggo relatif lancar sehingga mampu mendukung efisiensi distribusi logistik tanpa terkendala kemacetan seperti yang kerap terjadi di kawasan pelabuhan dengan aktivitas sangat padat.

Melalui kerja sama dengan INSA Surabaya, PT DABN berharap wilayah-wilayah yang secara geografis lebih dekat dengan Probolinggo mulai mempertimbangkan penggunaan pelabuhan tersebut sebagai pintu distribusi barang.

Dengan demikian, aktivitas logistik tidak lagi terpusat pada satu pelabuhan, tetapi dapat tersebar lebih merata sesuai kebutuhan dan efisiensi jalur distribusi.

“Kami harapkan daerah-daerah yang memungkinkan bisa masuk ke Pelabuhan Probolinggo,” katanya.

Selain menawarkan akses yang lebih efisien, PT DABN juga menilai Pelabuhan Probolinggo memiliki daya saing dari sisi biaya operasional. Sebagai pelabuhan yang masih berkembang, tarif pelayanan dinilai lebih kompetitif dibandingkan pelabuhan yang telah lama beroperasi.

“Pelabuhan Probolinggo masih muda, sehingga tarifnya tentu jauh lebih murah dibandingkan Pelabuhan Tanjung Perak yang sudah lebih lama beroperasi,” ungkap Andri.

Potensi pengembangan kawasan juga menjadi keunggulan lain yang dimiliki Pelabuhan Probolinggo. Dari total area sekitar 20 hektare, sekitar 15 hektare lahan masih tersedia dan dapat dimanfaatkan untuk mendukung ekspansi sektor logistik, pergudangan, maupun industri penunjang kepelabuhanan.

“Masih ada sekitar 15 hektare lahan kosong yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan,” terangnya.

Dari sisi fasilitas operasional, Pelabuhan Probolinggo telah dilengkapi berbagai peralatan bongkar muat, termasuk crane dan mobile crane. Sementara fasilitas Harbour Mobile Crane (HMC) masih belum tersedia karena operasional pelabuhan saat ini lebih difokuskan pada pelayanan komoditas curah.

“Crane maupun mobile crane sudah ada. Untuk HMC memang belum karena saat ini kami masih fokus pada muatan curah,” pungkasnya.

Kerja sama antara PT DABN dan INSA Surabaya ini diharapkan menjadi langkah awal dalam meningkatkan pemanfaatan Pelabuhan Probolinggo sebagai salah satu simpul logistik baru di Jawa Timur. Dengan dukungan infrastruktur, sertifikasi internasional, tarif yang kompetitif, serta ruang pengembangan yang masih luas, pelabuhan tersebut dinilai memiliki peluang untuk memperkuat jaringan distribusi barang sekaligus mendukung pertumbuhan sektor maritim nasional.