SUMENEP | SIGAP88 – Aroma bunga, lantunan doa, dan suasana khidmat menyelimuti kawasan Asta Bujuk Agung, Desa Aeng Tong-Tong, Kecamatan Saronggi, Rabu (24/6/2026). Di tempat yang dikenal sebagai salah satu pusat budaya keris di Madura itu, masyarakat kembali menggelar tradisi Haul dan Jamasan Pusaka sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun.

Tradisi jamasan bukan sekadar prosesi membersihkan benda pusaka. Bagi masyarakat Sumenep, ritual tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah, nilai-nilai budaya, serta kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Ratusan warga, tokoh agama, tokoh masyarakat, budayawan, hingga para empu keris turut hadir dalam kegiatan yang sarat makna tersebut. Prosesi berlangsung penuh kekhusyukan sebagai bentuk ikhtiar menjaga warisan budaya di tengah derasnya arus modernisasi.

Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa tradisi jamasan pusaka memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya daerah sekaligus memperkuat posisi Sumenep sebagai daerah yang kaya akan warisan sejarah dan budaya.

Menurutnya, jamasan pusaka merupakan peninggalan leluhur yang mengandung nilai sejarah, filosofi, dan kebudayaan yang tinggi sehingga harus terus dijaga agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Jamasan pusaka merupakan peninggalan para leluhur yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan filosofi yang sangat tinggi. Karena itu, tradisi ini harus terus dijaga dan dipertahankan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman,” ujarnya.

Desa Aeng Tong-Tong sendiri telah lama dikenal sebagai sentra empu keris terbesar di Kabupaten Sumenep. Dari desa inilah lahir berbagai karya keris yang tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga telah menembus pasar internasional dan mendapat pengakuan dari para pecinta budaya serta kolektor mancanegara.

Keberadaan para empu keris menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan warisan budaya yang telah mengakar kuat di tengah kehidupan masyarakat. Melalui dedikasi para perajin dan pewaris tradisi, nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap bilah keris terus hidup dan berkembang hingga saat ini.

“Para empu keris di Aeng Tong-Tong telah menunjukkan dedikasi luar biasa dalam menjaga warisan budaya bangsa. Karya mereka tidak hanya dikenal di tingkat nasional, tetapi juga telah menembus pasar internasional dan membawa nama baik Kabupaten Sumenep,” kata Imam Hasyim.

Pemerintah Kabupaten Sumenep berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian budaya keris melalui berbagai program pembinaan, promosi, dan pengembangan sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Selain memiliki nilai sejarah dan seni yang tinggi, keris juga menjadi salah satu potensi ekonomi yang mampu menggerakkan kesejahteraan masyarakat.

Wabup mengingatkan bahwa predikat Sumenep sebagai “Kota Keris Dunia” bukan hanya sebuah gelar kehormatan, melainkan amanah yang harus dijaga bersama melalui pelestarian tradisi, perlindungan terhadap para empu, serta pengenalan budaya keris kepada generasi muda.

Prosesi jamasan pusaka menjadi puncak kegiatan yang paling dinantikan. Sejumlah pusaka dibersihkan secara simbolis dengan tata cara yang telah diwariskan secara turun-temurun, mencerminkan penghormatan masyarakat terhadap sejarah dan nilai luhur para leluhur.

Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, tradisi jamasan pusaka menjadi pengingat bahwa kemajuan tidak harus menghapus akar budaya. Dari Aeng Tong-Tong, warisan keris Sumenep terus dijaga, dirawat, dan diperkenalkan kepada dunia sebagai identitas budaya yang membanggakan sekaligus menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Madura.

📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN