
SURABAYA | SIGAP88 – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekonomi biru dan pariwisata berkelanjutan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Komitmen tersebut diwujudkan dengan penerapan teknologi terumbu buatan Artificial Patch Reef (APR) di kawasan strategis Karimunjawa, Jawa Tengah.
Berkolaborasi dengan akademisi dari Universitas Diponegoro (Undip), PT Pelindo Terminal Petikemas secara resmi menyerahkan empat unit APR kepada kelompok nelayan lokal “Omah Karang” di Dukuh Nyamplungan, Desa Karimunjawa.
Teknologi ini memiliki kapasitas untuk menampung sekitar 600 koloni karang dan diharapkan mampu mempercepat pemulihan ekosistem terumbu karang sekaligus menjadi daya tarik wisata bahari yang ramah lingkungan.
Peresmian pemasangan APR yang dilaksanakan pada 10 Desember 2025 tersebut turut dihadiri oleh perwakilan masyarakat nelayan, pemerintah desa dan kecamatan, serta Balai Taman Nasional Karimunjawa.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, menyatakan dalam keterangan tertulisnya yang diterima redaksi sigap88.com, Kamis(18/12) bahwa penerapan teknologi APR dirancang untuk menciptakan manfaat ganda, baik dari sisi lingkungan maupun sosial-ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Kami berharap teknologi APR ini dapat memperkuat ekonomi masyarakat pesisir, sekaligus mendorong keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam menikmati manfaat pariwisata Karimunjawa secara berkelanjutan,” ujar Widyaswendra.
Sebelumnya, kelompok nelayan Omah Karang telah mengelola wisata adopsi karang dengan metode konvensional. Dengan adopsi APR–Coral Adoption, pengelolaan wisata diharapkan menjadi lebih terstruktur dan terukur, serta meminimalkan potensi kerusakan terhadap terumbu karang alami di kawasan tersebut
Sebagai bentuk dukungan komprehensif terhadap pengembangan usaha masyarakat, PT Pelindo Terminal Petikemas juga menyalurkan bantuan berupa 10 set peralatan selam skin diving serta mesin vacuum yang digunakan untuk pengemasan olahan ikan teri.
Langkah ini dilakukan mengingat potensi pengembangan aktivitas penangkapan ikan tradisional, seperti ikan teri, menjadi produk olahan khas Karimunjawa.
Widyaswendra menambahkan bahwa program TJSL ini merupakan wujud nyata dari komitmen perusahaan dalam menciptakan dampak sosial dan lingkungan yang berkelanjutan.
Program ini tidak hanya menitikberatkan pada pelestarian ekosistem laut, tetapi juga pada upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat.
“Kolaborasi dengan akademisi dan masyarakat lokal menjadi kunci agar manfaat program dapat dirasakan dalam jangka panjang,” jelasnya.
Wisata adopsi karang sendiri kian diminati sebagai model wisata berkelanjutan yang memadukan rekreasi dan edukasi lingkungan, di mana wisatawan dilibatkan langsung dalam proses restorasi terumbu karang.
Sementara itu, Prof. Dr. Munasik, inventor teknologi APR dari Pusat Penelitian Ekonomi Biru Undip sekaligus koordinator kegiatan, menjelaskan bahwa teknologi APR memberikan kemudahan signifikan dalam pengelolaan wisata adopsi karang.
“Penerapan APR memungkinkan penyediaan stok karang yang terkelola dengan baik serta mendukung atraksi transplantasi karang yang sesuai dengan prinsip konservasi di kawasan lindung,” tuturnya.
Selain implementasi teknologi, program TJSL SPTP juga difokuskan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia.
Para nelayan mendapatkan pelatihan dan sertifikasi SCUBA Diving, mulai dari Open Water Diver hingga Rescue Diver, serta pelatihan pengelolaan APR–Coral Adoption. Ibu-ibu nelayan di Dusun Nyamplungan juga turut diberdayakan melalui pelatihan pengolahan hasil perikanan dari Departemen Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip.
Melalui program terintegrasi ini, PT Pelindo Terminal Petikemas menargetkan Karimunjawa dapat terus tumbuh sebagai destinasi wisata bahari unggulan yang mengedepankan kelestarian lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan keberlanjutan ekonomi lokal.














