Tim Yankes Bergerak Pemprov Jawa Timur bersama warga saat pelaksanaan penelusuran aktif dan pemeriksaan kontak erat kasus kusta di Desa Sonok, Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi.
Tim Yankes Bergerak Pemprov Jawa Timur bersama warga saat pelaksanaan penelusuran aktif dan pemeriksaan kontak erat kasus kusta di Desa Sonok, Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi, Senin (15/6/2026). (Foto: Istimewa)

SUMENEP | SIGAP88 – Tim Pelayanan Kesehatan Bergerak (Yankes Bergerak) Pemerintah Provinsi Jawa Timur melakukan penelusuran aktif kasus kusta di Desa Sonok, Kecamatan Nonggunong, Pulau Sapudi, Senin (15/6/2026). Dari hasil pemeriksaan terhadap satu pasien yang sedang menjalani pengobatan dan 10 orang kontak eratnya, seluruhnya dinyatakan negatif atau tidak menunjukkan gejala kusta.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Yankes Bergerak yang digelar untuk memperkuat deteksi dini dan mencegah penyebaran penyakit kusta di wilayah kepulauan.

Pemeriksaan dipimpin Pengelola Program Kusta, Frambusia, dan Cacingan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, Sulistheo Wibowo. Menurutnya, tim kesehatan mendatangi langsung rumah pasien guna memantau perkembangan pengobatan sekaligus memeriksa anggota keluarga dan warga yang memiliki kontak erat.

“Kami memeriksa satu pasien yang sedang menjalani pengobatan serta 10 orang kontak eratnya. Hasilnya, seluruh kontak erat yang diperiksa tidak menunjukkan tanda-tanda kusta,” ujar Sulistheo.

Sebagai langkah pencegahan, tim kesehatan juga memberikan rifampisin dosis tunggal kepada seluruh kontak erat yang telah menjalani pemeriksaan. Obat tersebut diberikan untuk menekan risiko penularan dan menjadi perlindungan dini bagi kelompok yang berisiko.

Sulistheo mengungkapkan, sebelumnya tim Yankes Bergerak menemukan tiga kasus kusta baru dalam kegiatan skrining di Pulau Sapudi. Satu kasus ditemukan di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah (MI), sedangkan dua kasus lainnya ditemukan di tengah masyarakat.

Meski demikian, hingga saat ini tidak ditemukan kasus tambahan di wilayah Kecamatan Nonggunong.

“Semakin cepat kasus ditemukan, semakin mudah penanganannya. Karena itu kami berharap seluruh pasien yang telah teridentifikasi dapat menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas,” katanya.

Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak takut menjalani pemeriksaan jika memiliki riwayat kontak erat dengan pasien kusta.

“Bagi kontak erat tidak perlu khawatir. Kami telah memberikan obat pencegahan yang aman sesuai standar medis agar penyakit ini tidak berkembang dan dapat dikendalikan sejak dini,” jelasnya.

Sulistheo menjelaskan, gejala awal kusta yang perlu diwaspadai antara lain munculnya bercak putih atau kemerahan pada kulit yang tidak gatal, tidak nyeri, dan tidak kunjung sembuh meski telah diberikan pengobatan biasa.

“Jika menemukan tanda-tanda tersebut, segera periksakan diri ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar dapat ditangani lebih cepat,” imbaunya.

Untuk mendukung deteksi dini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga mengembangkan aplikasi SiJelita atau Sistem Jawa Timur Eliminasi Kusta. Melalui aplikasi tersebut, masyarakat dapat melakukan skrining mandiri guna mengetahui risiko awal penyakit kusta.

Hasil skrining akan terhubung dengan sistem pelayanan kesehatan sehingga memudahkan petugas melakukan tindak lanjut apabila ditemukan indikasi penyakit.

Selain penanganan medis, Sulistheo mengajak masyarakat menghilangkan stigma terhadap penderita kusta. Menurutnya, penyakit kusta dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur dan sesuai anjuran tenaga kesehatan.

“Pasien kusta tidak perlu dikucilkan. Dukungan keluarga dan masyarakat sangat penting agar mereka mau menjalani pengobatan hingga sembuh. Semakin cepat ditangani, semakin kecil risiko kecacatan maupun penularan,” tegasnya.

Ia menambahkan, upaya eliminasi kusta di wilayah Madura dan kawasan kepulauan membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah daerah, tenaga kesehatan, kader kesehatan, hingga masyarakat melalui deteksi dini, surveilans aktif, dan pengobatan yang berkelanjutan.