
Jakarta | SIGAP88 – Aksi pembajakan bersenjata oleh militer Israel terhadap kapal misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026 memicu reaksi keras di dalam negeri.
Gelombang kecaman datang setelah empat jurnalis Indonesia terkonfirmasi ikut ditangkap secara ilegal di perairan internasional, sekitar 300 mil laut dari pantai Gaza.
Kondisi ini mendorong komunitas pers mendesak pemerintah segera mengambil tindakan nyata guna menyelamatkan para warga negara Indonesia (WNI) tersebut.
Insiden pencegatan oleh tentara Israel (IDF) ini terjadi di wilayah laut bebas yang dekat dengan perairan Siprus.
Dua kapal yang mengangkut para relawan dan jurnalis, yakni Boralize dan Ozgurluk, sempat kehilangan kontak sama sekali.
Sebelum ruang komunikasi ditutup
paksa, para jurnalis di lokasi sempat menyebarkan video darurat (SOS) yang mengabarkan bahwa kapal mereka sedang diambil alih secara paksa oleh militer.
Informasi intersep tersebut baru dipastikan valid sekitar pukul 21.00 WIB.
Pewarta Foto Indonesia (PFI) Pusat mencatat ada empat nama jurnalis tanah air yang berada di dalam manifes kedua kapal tersebut. Di Kapal Boralize, Bambang Noroyono (Republika) menjadi satu-satunya WNI di sana
Sementara di Kapal Ozgurluk, terdapat Thoudy Badai (Wartawan Foto Republika/Anggota PFI), Andre Prasetyo Nugroho (Tempo), serta Rahendro Herubowo yang berkontribusi untuk iNewsTV, Berita1, dan CNN.
Menyikapi situasi kritis ini, Ketua Umum PFI Pusat, Dwi Pambudo, menyatakan bahwa penahanan jurnalis yang sedang bertugas merupakan bentuk kejahatan serius terhadap kemerdekaan pers.
“Jurnalis bukanlah kombatan dan keberadaan mereka dilindungi oleh Konvensi Jenewa. Perlindungan terhadap pekerja pers di medan konflik adalah harga mati demi tegaknya kebenaran informasi,” tegas Dwi Pambudo dalam pernyataan tertulisnya
Tuntutan strategis kini diarahkan kepada Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
Pemerintah diminta segera melancarkan langkah diplomatik agresif demi memastikan keselamatan fisik serta pemenuhan hak-hak konsuler seluruh WNI yang ditahan.
Selain jalur birokrasi, PFI juga menggalang gerakan bersama organisasi profesi jurnalis internasional untuk menekan Israel agar menghentikan segala bentuk kekerasan terhadap pencari berita.
Sebelumnya, Tentara Israel mencegat kapal-kapal misi perdamaian Global Sumud Flotilla di perairan internasional saat membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza pada Senin (18/5).
Sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang berada dalam rombongan itu kini diduga diculik setelah kontak dengan kapal mereka terputus.
Sebelum keberangkatan, para peserta misi diketahui telah menyiapkan pesan SOS sebagai bagian dari protokol darurat apabila terjadi pencegatan atau penahanan di tengah perjalanan. Dari daftar yang dirilis Global Sumud Flotilla, terdapat sejumlah jurnalis dan aktivis asal Indonesia yang diduga menjadi korban.
Berikut daftar WNI yang diduga diculik dalam insiden tersebut:
1. Thoudy Badai — Jurnalis Republika, berada di Kapal Ozgurluk
2. Rahendro Herubowo — Jurnalis iNews, berada di Kapal Ozgurluk
3. Bambang Noroyono — Jurnalis Republika, berada di Kapal Boralize
4. Andre Prasetyo Nugroho — Jurnalis TV Tempo, berada di Kapal Ozgurluk
5. Andi Angga — Aktivis, berada di Kapal Josef
Insiden pencegatan ini memicu kecaman dari para peserta dan pendukung misi kemanusiaan tersebut. Aktivis Global Sumud Flotilla, Chiki Fawzi, menyebut tindakan yang dilakukan tentara Israel sebagai bentuk penculikan terhadap relawan sipil di wilayah internasional.















