
SUMENEP | SIGAP88 – BPBD Sumenep menggalakan program pembentukan Desa Tangguh Bencana (Destana) guna mengantisipasi dan upaya memperkuat kesiapan masyarakat di wilayah yang memiliki resiko bencana, khususnya gempa bumi
Pemerintah Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus mendorong Pembentukan Destana
Fokus Pemkab Sumenep terhadap program tersebut di beberapa daerah termasuk kepulauan yakni, Rembang–Madura–Kangean–Sakala (RMKS), sebuah patahan aktif yang melintasi Pulau Sapudi dan sebagian besar daratan Sumenep.
”Destana bertujuan menciptakan masyarakat desa yang memiliki kemampuan mengenali ancaman bencana, memahami cara mengurangi risiko, hingga mampu melakukan tindakan cepat dan tepat ketika keadaan darurat terjadi” ujar Achmad Laily Maulidi selaku Kepala BPBD Kabupaten Sumenep, di desa Babbalan, kecamatan Batuan dalam rangka penanganan dan penanggulangan cepat dari dampak bencana, Selasa(2/12)
Laily menambahkan, bahwa Destana merupakan suatu program untuk Pengurangan Resiko Bencana atau PRB yang dilakukan secara sistematis di akar rumput mulai dari penyusunan peta risiko, rencana kontinjensi, SOP evakuasi, hingga simulasi penyelamatan.
”Manfaat strategis Destana, seperti, meningkatkan pemahaman warga tentang risiko bencana, khususnya gempa bumi yang dapat terjadi tanpa tanda awal” jelasnya
Masih kata Laily, dengan adanya Destana, uga membangun sistem peringatan dini dan jalur evakuasi di tingkat desa
serta, menyiapkan relawan terlatih yang mampu melakukan pertolongan pertama, pemadaman kebakaran, hingga evakuasi mandiri.
Selain itu kata Laily, manfaat Destana juga dapat menguatkan koordinasi antara pemerintah desa, relawan, dan warga, sehingga respons bencana lebih cepat dan terukur, dan mendorong integrasi mitigasi bencana dalam perencanaan desa, termasuk RPJMDes dan APBDes.
”Dengan begitu, desa diharapkan tidak hanya menjadi ‘penerima bantuan‘ ketika bencana terjadi, tetapi dapat menjadi subjek utama dalam mengurangi risiko dan menyelamatkan diri” terangnya.
Anggota Destana, kata dia, nantinya akan mendapat SK dari kepala desa yang terdiri dari beberapa masyarakat
”Destana dibentuk melalui SK Kepala Desa dan mencakup berbagai unsur masyarakat, antara lain: Ketua dan pengurus Destana Relawan desa,Tokoh masyarakat / tokoh agama, Keterwakilan perempuan, Pemuda dan karang taruna, Perwakilan kelompok rentan, seperti difabel atau lansia, pendamping dari BPBD atau lembaga mitra, serta unsur RT/RW dan perangkat desa” terangnya
Menurut Laily, pendirian Destana adalah langkah penting untuk membangun ketangguhan masyarakat dari tingkat desa.
”Dengan adanya Destana, masyarakat tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pemerintah ketika bencana terjadi, karena mereka sudah memiliki kemampuan dasar untuk menyelamatkan diri,” jelas Laily
Dirinya juga mengimbau kepada masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa harus mendapat perhatian lebih.
“Sumenep dilintasi sesar aktif yang sewaktu-waktu dapat memicu gempa. Karena itu, kesiapsiagaan berbasis masyarakat menjadi sangat penting. Kita ingin setiap desa memahami apa yang harus dilakukan, siapa yang bertugas, dan bagaimana koordinasinya,” tuturnya,
Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa penguatan Destana juga berfungsi meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian materi.
“Ketika masyarakat siap, dampak bencana dapat ditekan. Itulah tujuan utama kami. Desa harus kuat sebelum bencana, bukan setelahnya,” pungkasnya (*)














