JOMBANG | SIGAP88 — Tembakau bukan sekadar tanaman musiman bagi masyarakat di kawasan Utara Brantas, Kabupaten Jombang. Di balik hamparan tanaman yang memenuhi lahan pertanian, komoditas ini menjadi salah satu penggerak ekonomi ribuan keluarga petani.

Dinas Pertanian Kabupaten Jombang memperkirakan nilai ekonomi tembakau pada musim 2026 mendekati Rp487 miliar, dengan basis sekitar 15.000 petani yang menggantungkan penghidupannya pada komoditas tersebut.

Besarnya potensi itu terlihat dari luas areal tanam. Hingga 30 September 2026, tembakau Jombang telah ditanam di lahan seluas 6.508,7 hektare. Dari luasan tersebut, sekitar 5.198 hektare atau 85,75 persen telah memasuki realisasi panen.

Kawasan Utara Brantas menjadi pusat produksi tembakau Jombang. Sentra tersebut meliputi Kecamatan Kabuh, Ploso, Plandaan, Ngusikan, dan Kudu.

Kabuh menjadi wilayah dengan areal terluas, sekitar 2.633 hektare, disusul Ploso sekitar 1.340 hektare dan Plandaan sekitar 1.172 hektare. Sementara areal lainnya tersebar di Ngusikan dan Kudu.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Jombang, Much. Rony, mengatakan nilai ekonomi tersebut dihitung dengan asumsi produktivitas minimal 15 ton daun basah per hektare dan harga sekitar Rp5.000 per kilogram.

Angka itu disampaikannya saat menghadiri Pembinaan Panen dan Pascapanen Tembakau dalam rangka Panen Raya Tembakau 2026 di Desa Bawangan, Kecamatan Ploso, Rabu (7/10/2026).

Namun, besarnya nilai ekonomi tersebut sekaligus menunjukkan betapa pentingnya menjaga kualitas dan keberlanjutan produksi. Sebab, bagi ribuan petani, persoalan tembakau tidak berhenti ketika daun dipanen.

Bukan Sekadar Mengejar Produksi

Pemkab Jombang melalui Dinas Pertanian mengarahkan dukungan kepada petani sejak budidaya hingga pascapanen.

Salah satu sumber dukungan berasal dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Pada 2026, dukungan tersebut antara lain berupa 350 ton pupuk NPK khusus tembakau, 19 mesin rajang, empat hand tractor, serta tiga kendaraan angkut roda tiga.

Program tidak berhenti pada bantuan sarana produksi. Petani juga mendapatkan pembinaan mengenai teknik budidaya dan pascapanen, pengendalian organisme pengganggu tanaman, pembenihan, pengembangan varietas unggul hingga peningkatan kapasitas.

Pendampingan tersebut melibatkan tenaga teknis serta lembaga penelitian dan proteksi tanaman.

“Yang kita dorong bukan hanya produksinya, tetapi bagaimana kualitas tembakau semakin baik, petani semakin mampu mengelola usahanya, dan hasil akhirnya mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi,” kata Much. Rony.

Jombang juga memiliki kekuatan dari sisi varietas lokal. Tiga varietas tembakau, yakni Janten Pakpi 1, Janten Pakpi 2, dan Manilou, telah terdaftar dan dirilis Kementerian Pertanian.

Kemampuan petani juga berkembang hingga tahap produksi dan sertifikasi benih secara mandiri. Benih hasil produksi tersebut bahkan mulai diminati daerah lain, di antaranya Gresik dan Blitar.

Tembakau Menopang Ekonomi Keluarga

Di kawasan Utara Brantas, tembakau memiliki pola tersendiri dalam kehidupan ekonomi petani.

Komoditas ini berjalan beriringan dengan tanaman pangan melalui pola rotasi. Padi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sementara pendapatan dari tembakau menjadi salah satu penopang kebutuhan rumah tangga sekaligus biaya operasional pertanian.

Menurut Much. Rony, pola tersebut telah berlangsung dan menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat.

“Petani di Utara Brantas memiliki tradisi menyimpan hasil panen padinya untuk kebutuhan sendiri. Kebutuhan operasional sehari-hari ditopang dari hasil panen tembakau,” ujarnya.

Karena itu, keberlanjutan sektor tembakau juga berkaitan dengan regenerasi petani. Pemerintah daerah mulai mendorong generasi muda agar melihat pertanian bukan semata pekerjaan tradisional, tetapi sebagai sektor usaha yang memiliki peluang ekonomi.

Pelatihan dan peningkatan kapasitas generasi muda dilakukan melalui kerja sama dengan lembaga penelitian tembakau di Malang dan Jember.

Produksi Besar, Pasar Harus Jelas

Persoalan berikutnya justru berada setelah produksi. Hasil panen yang besar tidak otomatis menjamin pendapatan petani apabila tidak diikuti pasar yang jelas dan harga yang layak.

Karena itu, penguatan kemitraan antara petani, pabrikan, maupun pembeli menjadi salah satu pekerjaan penting dalam pengembangan tembakau Jombang.

Bupati Jombang Warsubi menekankan pentingnya mempertemukan kepentingan petani dan pembeli dalam hubungan usaha yang terbuka.

“Petani membutuhkan kepastian pasar dan harga yang wajar, sementara pembeli membutuhkan tembakau dengan kualitas dan kontinuitas yang terjaga. Keduanya harus dipertemukan melalui kemitraan yang terbuka dan saling menguntungkan,” tegasnya.

Arah pengembangan tembakau Jombang ke depan pun tidak cukup hanya bertumpu pada luas lahan dan jumlah produksi.

Efisiensi budidaya, peningkatan mutu, pengolahan, inovasi, penguatan agribisnis hingga perluasan jaringan pemasaran menjadi bagian penting untuk memastikan nilai tambah tidak berhenti di rantai perdagangan, tetapi semakin kuat di tingkat petani.

Bagi masyarakat Utara Brantas, tembakau memang telah tumbuh sebagai tradisi lintas generasi.

Tetapi ketika komoditas itu telah menopang ekonomi sekitar 15.000 petani dan menghasilkan potensi ekonomi hampir Rp487 miliar, tembakau bukan lagi sekadar cerita tentang musim tanam dan musim panen.

Ia telah menjadi bagian penting dari denyut ekonomi Jombang.

“Menanam tembakau bukan lagi sekadar kegiatan pertanian, melainkan sudah menjadi bagian dari tradisi dan kebudayaan. Semangat ini yang terus kami dorong agar sektor tembakau semakin maju, berdaya saing, dan menyejahterakan masyarakat,” pungkas Much. Rony.

☕
Traktir Kopi SIGAP88
Dukung SIGAP88 untuk terus menghadirkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Dukung SIGAP88
📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses