JOMBANG | SIGAP88 — Sekitar 600 mahasiswa Universitas KH. A. Wahab Hasbullah (UNWAHA) Jombang telah menyelesaikan perjalanan akademiknya. Namun, di tengah prosesi wisuda, hanya empat wisudawan yang berani merespons tantangan Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Zulkifli Hasan.

Momen itu terjadi saat Zulhas memberikan orasi ilmiah pada Wisuda UNWAHA 2026 di Gedung Serba Guna KH. Hasbullah Said, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (4/10/2026).

Di hadapan para wisudawan, Zulhas tidak sekadar berbicara mengenai gelar, pekerjaan, maupun masa depan. Ia justru menguji satu hal yang menurutnya kerap sulit ditemukan: keberanian.

Zulhas meminta wisudawan yang berani untuk maju ke depan podium.

Ratusan wisudawan masih bergeming.

Beberapa saat kemudian, empat orang akhirnya berdiri dan berjalan menuju podium.

Bagi Zulhas, respons tersebut bukan sekadar spontanitas di tengah acara wisuda. Ia menjadikannya ilustrasi tentang pentingnya keberanian ketika seseorang menghadapi situasi yang tidak memiliki jawaban pasti.

“Saudara-saudara saksikan, ini ada empat dari 600 lebih wisudawan yang berani maju. Orang tidak bisa jawab pertanyaan bisa belajar, orang tidak tahu bisa bertanya. Tetapi orang yang berani itu susah dicari,” kata Zulhas.

Gelar Sarjana Tak Cukup Tanpa Keberanian

Zulhas menempatkan pendidikan sebagai bekal pengetahuan, tetapi bukan satu-satunya modal untuk menghadapi kehidupan.

Setelah meninggalkan kampus, para lulusan akan berhadapan dengan pilihan. Ada yang memasuki dunia kerja, membangun usaha, melanjutkan pendidikan, maupun memilih mengabdi di tengah masyarakat.

Di setiap pilihan itu terdapat ketidakpastian.

Karena itu, menurut Zulhas, kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan keberanian mengambil kesempatan.

Ia kemudian mengarahkan perhatian para wisudawan kepada sejumlah tokoh yang hadir dalam acara tersebut.

“Lihat di depan kita, dulu sekolahnya sama. Ada Bu Nyai Mundjidah, Bu Nyai Hizbiyah, Kiai Hasib Wahab, ada Pak Wakil Gubernur, ada Staf Ahli Menteri dan Menko Pangan. Mereka beda-beda perjuangannya. Kenapa berbeda? Karena berani,” ujarnya.

Pesan tersebut kemudian ia pertegas.

“Jadi berani itu menentukan jadi apa kita hari ini dan hari depan, itu filosofinya,” tegas Zulhas.

Kalimat itu menjadi inti orasi yang disampaikannya kepada para lulusan.

Bahwa setelah bertahun-tahun berada di ruang kuliah, fase berikutnya tidak selalu menyediakan petunjuk yang jelas. Ada saat ketika seseorang harus menentukan langkah sendiri.

Dan pada titik itulah keberanian diuji.

Empat Wisudawan Dapat Apresiasi

Empat wisudawan yang merespons tantangan Zulhas kemudian mendapatkan apresiasi.

Masing-masing menerima hadiah berupa satu unit tablet.

Tepuk tangan terdengar ketika pemberian apresiasi tersebut berlangsung.

Namun, perhatian utama dari momen itu bukan semata hadiah yang diterima keempat wisudawan.

Keempatnya secara tidak langsung menjadi contoh dari pesan yang baru saja disampaikan Zulhas kepada seluruh lulusan.

Ketika kesempatan datang, diperlukan keberanian untuk mengambil langkah.

Dari Kampus Menuju Dunia Nyata

Wisuda menandai berakhirnya satu fase pendidikan. Tetapi bagi sekitar 600 lulusan UNWAHA, setelah hari itu justru terbuka fase yang lebih menentukan.

Ijazah dan gelar sarjana menjadi bukti bahwa mereka telah melewati proses pendidikan tinggi.

Namun, dunia setelah kampus tidak hanya menilai seseorang dari gelar yang disandang.

Kemampuan membaca keadaan, mengambil keputusan, memanfaatkan peluang, mempertanggungjawabkan pilihan, serta berani menghadapi risiko akan ikut menentukan perjalanan masing-masing.

Di sinilah pesan Zulhas menemukan relevansinya.

Empat orang maju ketika ratusan lainnya memilih tetap berada di tempat.

Peristiwa itu sederhana. Bahkan hanya berlangsung beberapa saat.

Tetapi di tengah seremoni wisuda yang penuh simbol tentang keberhasilan akademik, momen tersebut menghadirkan pertanyaan yang lebih nyata:

Ketika kesempatan datang, apakah seseorang berani melangkah?

Bagi para lulusan UNWAHA, pertanyaan itu kini tidak lagi berhenti di podium.

Mereka akan menemukannya di dunia kerja, dunia usaha, lingkungan sosial, maupun ruang pengabdian masing-masing.

Dan perjalanan setelah wisuda akan menjadi tempat untuk membuktikan jawabannya.

☕
Traktir Kopi SIGAP88
Dukung SIGAP88 untuk terus menghadirkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Dukung SIGAP88
📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses