
SURABAYA | SIGAP88 – PT Telkom Indonesia terus mempercepat transformasi bisnis melalui langkah restrukturisasi dan optimalisasi aset guna memperkuat fokus perusahaan pada sektor telekomunikasi dan digital.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini menjelaskan, transformasi tersebut dijalankan melalui strategi TLKM 30 yang salah satunya diwujudkan dalam penataan portofolio bisnis non inti atau streamlining.
“Perseroan melakukan penataan portofolio non-core business agar dapat mendorong kontribusi yang lebih optimal dan meningkatkan efisiensi operasional,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Implementasi strategi itu antara lain dilakukan melalui proses divestasi AdMedika dan anak usahanya TelkoMedika.
Saat ini proses tersebut telah memasuki tahap Conditional Sale and Purchase Agreement (CSPA) menuju divestasi penuh pada akhir semester pertama 2026.
Selain itu, Telkom juga menjalankan langkah unlocking value melalui pemisahan sebagian bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity kepada InfraNexia.
Langkah ini ditandai dengan penandatanganan Conditional Spin-off Agreement (CSA) pada Desember 2025 sebagai tahap awal fiber carve-out.
Menurut Dian, strategi tersebut bertujuan meningkatkan utilisasi aset dan memaksimalkan Return on Assets (ROA), sekaligus memperluas kontribusi Telkom dalam mendukung konektivitas nasional.
“Transformasi ini menjadi bagian dari arah perubahan Telkom menuju strategic holding yang lebih fokus pada penguatan penciptaan nilai dan pengelolaan portofolio bisnis secara optimal,” katanya.
Telkom juga tengah menjalankan perubahan model operasi dari operating holding menjadi strategic holding melalui delayering organisasi.
Nantinya, perusahaan akan fokus pada empat segmen Operating Company (OpCo), yakni B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International.
Dian menegaskan, langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat fundamental perusahaan, mengharmonisasi lini bisnis, serta meningkatkan efektivitas tata kelola perusahaan secara berkelanjutan















