
SUMENEP | SIGAP88 — Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca saja dinilai tidak lagi cukup. Pelajar dituntut mampu memahami, memeriksa, mengolah hingga menyampaikan kembali informasi secara kritis.
Pesan itu disampaikan Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo saat menghadiri Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep, Selasa (6/10/2026).
Fauzi menempatkan literasi sebagai kemampuan yang lebih luas daripada sekadar aktivitas membaca dan menulis. Menurutnya, budaya literasi harus membentuk kebiasaan pelajar dalam memahami informasi sekaligus mengembangkan cara berpikir.
“Budaya literasi bukan hanya membaca dan menulis. Literasi juga kemampuan memahami informasi, mengolah pengetahuan, serta menyampaikan gagasan dengan baik,” kata Fauzi.
Menurut dia, kemampuan tersebut semakin penting karena pelajar hidup di tengah arus informasi yang bergerak cepat. Beragam informasi dapat dengan mudah diterima melalui media digital, tetapi tidak semuanya memiliki dasar yang benar.
Karena itu, pelajar diminta tidak terburu-buru mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diterima.
Setiap informasi, kata Fauzi, perlu diperiksa sumber dan kebenarannya sebelum dijadikan rujukan atau dibagikan kepada orang lain.
Literasi Harus Menjadi Kebiasaan
Fauzi menilai sekolah memiliki posisi penting dalam membangun budaya literasi. Kebiasaan membaca, menulis, berdiskusi dan menghasilkan karya perlu ditempatkan sebagai bagian dari keseharian pelajar, bukan hanya dilakukan ketika ada kegiatan tertentu.
Ia berharap Pekan Literasi 2026 di SMAN 1 Sumenep tidak berhenti sebagai agenda tahunan atau kegiatan seremonial.
Lebih jauh, momentum tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan positif yang terus berlangsung di lingkungan sekolah.
“Pelajar harus memanfaatkan kemajuan teknologi untuk belajar dan berkarya. Jangan mudah percaya informasi, tetapi gunakan media digital untuk hal yang produktif,” ujarnya.
Kemampuan memilah informasi, lanjutnya, merupakan bagian penting dari literasi pada era digital. Pelajar perlu memiliki keberanian untuk mempertanyakan informasi, mencari sumber pembanding dan memahami konteks sebelum mengambil kesimpulan.
Bagi Fauzi, budaya literasi juga berkaitan dengan kemampuan pelajar mengembangkan gagasan. Membaca menjadi pintu masuk, sementara menulis, berdiskusi dan berkarya menjadi bagian dari proses untuk mengolah pengetahuan menjadi sesuatu yang bermanfaat.
Ia berharap kegiatan literasi di SMAN 1 Sumenep mampu memantik semangat siswa untuk terus membaca, menulis dan menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.
Menurutnya, generasi muda yang memiliki budaya literasi kuat akan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan masa depan.
“Pelajar hendaknya gemar membaca, berani menulis, kritis berpikir dan kreatif berkarya demi membangun Kabupaten Sumenep semakin maju,” pungkasnya.















