SUMENEP | SIGAP88 — Dua puluh tiga tim sekolah dasar dari berbagai wilayah di Kabupaten Sumenep mulai menguji kemampuan di lapangan hijau. Bukan sekadar memburu trofi, turnamen mini soccer U-13 di Stadion Ahmad Yani Sumenep diarahkan menjadi bagian dari proses panjang menemukan dan membina bibit pesepakbola sejak usia dini.

Turnamen yang dibuka Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, Kamis (1/10/2026), menjadi ruang bagi anak-anak usia sekolah dasar untuk merasakan atmosfer kompetisi sekaligus mengasah kemampuan bermain secara langsung.

Bagi Pemerintah Kabupaten Sumenep, pertandingan usia dini tidak semestinya berhenti pada persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Kompetisi justru menjadi salah satu cara untuk melihat potensi pemain sekaligus membangun karakter mereka melalui olahraga.

“Mini soccer ini bukan hanya sekadar siapa yang menang, siapa yang mencetak gol atau siapa yang menjadi juara. Ini bagian dari proses pembinaan generasi muda melalui olahraga sepak bola,” kata Achmad Fauzi Wongsojudo.

Ia meminta para pemain tidak menjadikan kekalahan sebagai alasan untuk takut bermain. Keberanian mencoba, kemauan belajar dan kemampuan menjaga sportivitas dinilai jauh lebih penting dalam proses pembentukan pemain muda.

“Jangan takut kalah. Yang paling penting berani bermain, berani berusaha dan terus belajar menjadi lebih baik. Jangan ada gesekan, jangan ada perkelahian. Ini sepak bola,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengolah bola. Mental bertanding dan karakter pemain juga menjadi bagian yang perlu dibentuk sejak awal.

Menurut Fauzi, pencarian talenta tidak dapat dilakukan dengan mengandalkan satu turnamen. Anak-anak yang memiliki kemampuan dan potensi berkembang perlu mendapatkan pemantauan serta pembinaan secara berkelanjutan.

“Pemerintah daerah berpikir serius bagaimana generasi muda dari U-13 ini bisa menjadi bibit yang berpotensi menjadi atlet sepak bola dan ke depannya dapat diandalkan,” ungkapnya.

Karena itu, pembinaan dirancang tidak berhenti pada kelompok usia U-13. Pemerintah daerah ingin membangun jalur pembinaan yang berjenjang, dimulai dari lingkungan sekolah dasar dan dilanjutkan ke kelompok usia berikutnya.

“Kalau tidak kita persiapkan dari tingkat SD, kemampuan dan karakter dalam bermain agak sulit dibentuk. Tahun ini kita coba jenjangkan dari mini soccer U-13 sampai U-17,” pungkasnya.

Gagasan tersebut menempatkan turnamen bukan sebagai tujuan akhir, melainkan salah satu titik awal. Dari pertandingan di lapangan, kemampuan anak-anak dapat dipetakan untuk kemudian dikembangkan melalui pembinaan yang lebih terarah.

Turnamen mini soccer U-13 berlangsung selama tiga hari hingga babak final. Sebanyak 23 tim yang berasal dari Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) jenjang sekolah dasar se-Kabupaten Sumenep ambil bagian dalam kompetisi tersebut.

Di balik perebutan gol dan trofi, terdapat pekerjaan yang lebih panjang: memastikan anak-anak yang memiliki bakat tidak berhenti setelah turnamen usai.

Sebab, talenta sepak bola tidak lahir hanya dari satu pertandingan. Ia membutuhkan ruang bermain, kompetisi, pendampingan, disiplin dan kesempatan untuk terus berkembang.

Bagi Sumenep, turnamen U-13 ini menjadi salah satu langkah untuk membuka ruang tersebut sejak bangku sekolah dasar.

☕
Traktir Kopi SIGAP88
Dukung SIGAP88 untuk terus menghadirkan informasi yang akurat dan terpercaya.
Dukung SIGAP88
📰 Baca Versi E-Paper
Baca berita ini dalam tampilan koran digital SIGAP88.
BUKA VERSI KORAN

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses