
SURABAYA | SIGAP88 – Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa kekuatan maritim merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kedaulatan negara sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.
Pernyataan tersebut disampaikan AHY saat memberikan kuliah umum kepada para taruna di Akademi Angkatan Laut (AAL) Surabaya, Selasa (24/6/2026).
Menurut AHY, posisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah menuntut hadirnya sistem pertahanan yang kuat dan adaptif terhadap berbagai tantangan zaman.
Ia menekankan bahwa menjaga integritas wilayah bukan hanya menjadi kebutuhan pada masa perang, tetapi juga bagian penting dari strategi nasional dalam menghadapi berbagai ancaman nonmiliter yang berkembang di kawasan maritim.
“Ketika kita memahami Indonesia memiliki kekayaan alam yang luar biasa, wilayah yang luas dan jumlah penduduk yang besar, maka semua itu harus dijaga dengan kekuatan pertahanan yang memiliki kemampuan memadai, baik dalam masa damai maupun saat menghadapi operasi militer perang,” ujar AHY.
Ketua Umum Partai Demokrat itu menilai penguatan sektor kemaritiman harus dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya melalui modernisasi alat utama sistem senjata, tetapi juga dengan pemanfaatan teknologi, penguatan sumber daya manusia, serta pembangunan infrastruktur pendukung yang terintegrasi.
Sebagai negara maritim, lanjut AHY, Indonesia memiliki kepentingan besar untuk memastikan seluruh potensi kelautan dapat dimanfaatkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa.
Menurutnya, pembangunan pelabuhan, penguatan konektivitas jalur laut, hingga penciptaan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis kemaritiman menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional jangka panjang.
“Pemaritiman tidak lepas dari upaya negara dalam menyiapkan pelabuhan, jalur laut, serta menciptakan pusat-pusat ekonomi baru yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam konteks ini, Angkatan Laut memiliki peran yang sangat strategis,” katanya.
Dalam kuliah umum tersebut, AHY juga menyoroti berbagai ancaman yang masih terjadi di wilayah perairan Indonesia. Ia menyebut praktik perdagangan manusia (human trafficking), penangkapan ikan ilegal (illegal fishing), hingga berbagai aktivitas lintas batas yang melanggar hukum masih menjadi tantangan yang harus dihadapi bersama.
Menurutnya, berbagai aktivitas ilegal tersebut tidak hanya merugikan negara secara ekonomi, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas keamanan nasional.
Karena itu, Indonesia harus terus mengedepankan diplomasi sebagai instrumen utama dalam menjaga hubungan antarnegara, sembari tetap memperkuat kapasitas pertahanan sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan.
“Kalau tidak bisa diplomasi maka kita siap menghadapi dengan kekuatan kita,” tegas AHY.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia tetap berkomitmen menjaga perdamaian dunia dan mengedepankan kerja sama internasional sebagai bagian dari politik luar negeri yang bebas dan aktif.
“Di atas segalanya kita ingin dunia yang damai dan tenteram,” pungkasnya.
















