
SUMENEP | SIGAP88 – Desas desus penyebaran Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) sontak memengaruhi tingkat penjualan hewan ternak di pasaran.
Tak terkecuali di pasar hewan yang berada di kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur mendadak sepi pembeli
Kepala pasar Lenteng H. Toha menyampaikan, bahwa pasar hewan baik sapi dan kambing di pasar Lenteng sejak akhir tahun 2025 sampai Januari 2026 ini pasar sepi.
“Karena ada rumur penyakit PMK terjadi lagi di wilayah kabupaten Sumenep berdampak kepada menurunnya pedagang dan pembeli hewan ke pasar Lenteng,” kata H. Toha. Minggu ( 25/01/2026).
Ia menjelaskan, setiap hari Minggu merupakan pasar hewan untuk pasar Lenteng, “Kita liat sendiri Mas, sampai pukul 13.30 wib cuma beberapa ekor sapi saja yang masuk ke pasar,” ujarnya.
“Penurunannya sangat drastis, yang semula sebelum ada kabar penyakit PMK terjadi lagi setiap pasaran sekitar 250 ekor sapi masuk ke pasar Lenteng,” paparnya
Namun, setelah ada informasi dari mulut ke mulut di masyarakat bahwa ada beberapa sapi yang mati karena PMK, banyak pedagang enggan untuk membawa sapi kepasar, bahkan pembeli jarang.
“Hari ini hanya puluhan sapi saja yang masuk ke pasar Lenteng,” tegasnya.
“Di awal bulan Januari 2026 ada seekor kambing mati saat mau di jual di pasar Lenteng,” jelasnya
Pria yang akrab disapa Abah Toha ini berharap pihak dinas terkait dapat turun kelapangan untuk memantau kesehatan hewan di peternak. “Sehingga menggeliatkan kembali minat pedagang dan pembeli,” terangnya.
Terpisah, salah satu pedagang sapi di kepulauan Sapudi, Jailani mengatakan, dua bulan ini pasar sapi sangat sepi, akibat rumor PMK di masyarakat.
“Ada beberapa sapi di para peternak terkena penyakit, yang mana gejalanya sama dengan penyakit PMK,” ucap Jailani
Bahkan, sapi kerapan saya juga terkena penyakit yang gejalanya sama dengan PMK, tapi dapat ditanggulangi. “Ada sapi kerapan yang terkena penyakit sampai mati,” jelasnya
“Setiap pasaran biasanya sapi sampai lebih dari 300 ekor tapi, dengan adanya penyakit ternak ini pasaran hanya sampai puluhan ekor saja,” imbuh Jailani.
“Ini berdampak kepada perekonomian para peternak dan pedagang sapi dan kambing,” pungkasnya











