Seminar “Remaja Keren Cegah Stunting”, Rektor UNIBA Ajak Generasi Milenial Hindari Pernikahan Dini

56

Sumenep | Sigap88 – Pelaksanaan kegiatan seminar di Universitas Bahaudin Mudhary Madura (UNIBA) berjalan khidmat dengan dihadiri oleh ratusan mahasiswa

Kegiatan seminar yang mengusung tema, Sosialisasi dan KIE Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja “Remaja Keren Cegah Stunting”, bertujuan untuk memberikan pemahaman terkait upaya pencegahan terjadinya stunting

Hadir dalam acara tersebut, ketua Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary Dr. Achsanol Qosasi, CSFA., CFrA, Sekretaris Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary Annisa Zhafarina Qosasi, SE., MM, Rektor UNIBA Prof. Rachmad Hidayat, Wakil Bupati Sumenep Hj. Dewi Khalifah, Kepala Dinas Kesehatan Agus Mulyono, Kepala cabang BTN Bangkalan, Pejabat BKKBN Pusat, serta Kepala perwakilan BKKBN Pemprov Jatim Drs. Maria Ernawati, MM

Advertisement

Dalam kesempatan itu, Rektor UNIBA saat menyampaikan pidatonya mengatakan, kalau berbicara stunting sebenarnya yang paling penting adalah mencegah terjadinya pernikahan dini

Baca Juga  Camat Kangayan Pantau Pendistribusian BLT-DD Desa Daandung

“Jadi saya tekankan kepada anak-anak calon milenial ini bisa menjadi kader yang nantinya akan menjadi jembatan dalam menyampaikan upaya pencegahan stunting kepada masyarakat”. Kata Prof. Rachmad. Jum’at (21/7/2023)

Untuk pernikahan dini senidiri, kata Prof. Rachmad bisa di cegah dengan cara sosialisasi, bahwa pernikahan itu membutuhkan usia yang matang, karena pernikahan bukan hanya sekedar hubungan suami istri, tetapi juga ada yang namanya membesarkan anak, dan sebagainya

“Oleh karena itu, regulasi pemerintah harus juga di perketat, dengan cara tidak membolehkan adanya pernikahan dibawah umur, sebab kalau pemerintah tidak tegas, maka sama halnya akan menghambat upaya dalam mencegah terjadinya stunting”. Jelasnya

Karena, kalau dilihat dengan kondisi saat ini, pemerintah masih belum bisa dikatan tegas terkait pencegahan pernikahan dibawah umur, terbukti walaupun ada aturan menikah umur 21 tahun, tapi dispensasi pernikahan tetap diberikan oleh pemerintah

Baca Juga  350 Keluarga Penerima Manfaat Warga Desa Arjasa Terima Bantuan Pangan dari Kemensos

“Kalau regulasinya tetap tidak tegas, maka bisa dipastikan kalau angka pernikahan dini akan tetap tinggi. Jadi mari bersama sama saling meningkatkan ketakwaan kepada tuhan yang maha esa, supaya bisa terhindar dari pergaulan bebas, dan sebagainya”. Ungkapnya

Selain itu, Rachmad berharap kepada anak-anak milenial agar mempersiapkan diri lebih baik, karena angka stunting ini menunjukkan bahwa di kabupaten Sumenep masih penuh dengan kekurangan, dan sebagai anak-anak melinial harus berfikir positif dalam menatap masa depan

“Anak-anak melinial ini merupakan calon pemimpin bangsa dimasa yang akan datang, nasib bangsa ada di tangan kalian, apabila kalau anak-anak milenial ini lengah maka apa jadinya bangsa dan negara yang akan datang”. Harapnya

Baca Juga  Bazar Takjil Ramadhan, Pemkab Sumenep Pertahankan Kuliner Lokal dan Produk UMKM

Sementara itu, harapan untuk Pemerintah kabupaten (Pemkab) Sumenep, Rachmad berharap dalam pencapaian prestasi dalam menurunkan angka stunting ini sudah sangat bagus yang sebelumnya kurang lebih 27%, , lalu sekarang berada di angka 21%

“Ini perlu terus di tingkatkan di masa yang akan datang, karena walaupun sudah turun sekitar 7,4% tetapi angka stunting di kabupaten Sumenep masih diatas 20%, saya berharap target Pemkab bisa menurunkan lagi sehingga pemerintah bisa benar-benar membuktikan keberpihakan kepada masyarakat”. Ujarnya

sigap88.com tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE