SUMENEP | SIGAP88 – Krisis air bersih di Kabupaten Sumenep semakin membebani warga. Di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, masyarakat mengaku telah kesulitan mendapatkan air selama sekitar empat bulan dan terpaksa membeli air dengan biaya sekitar Rp80 ribu per pikap.
Kemarau panjang mulai memberi tekanan serius terhadap kebutuhan dasar warga di sejumlah wilayah Kabupaten Sumenep. Di Desa Langsar, Kecamatan Saronggi, warga mengaku telah menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih sejak Juli 2026.
Rp80 Ribu untuk Memenuhi Kebutuhan Air
Selama berbulan-bulan, masyarakat harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Sebagian warga bahkan terpaksa membeli air dengan biaya sekitar Rp80 ribu untuk satu pikap.
Kondisi tersebut dirasakan langsung warga RT 13 Desa Langsar. Ketua RT 13, Masdarun, mengatakan persoalan air bersih telah berlangsung sekitar empat bulan dan semakin menjadi beban bagi masyarakat.
“Warga mulai mengalami kekurangan air bersih sejak bulan tujuh lalu. Untuk memenuhi kebutuhan air, warga terpaksa membeli. Satu pikap air harganya sekitar Rp80 ribu,” ujar Masdarun.
Menurut Masdarun, air yang dibeli warga tidak hanya digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak. Air tersebut juga diperlukan untuk mandi dan berbagai aktivitas rumah tangga sehari-hari.
Dengan kebutuhan yang berlangsung terus-menerus, pengeluaran untuk membeli air menjadi beban tambahan bagi keluarga. Terlebih, kondisi kekeringan membuat kebutuhan terhadap pasokan air bersih semakin mendesak.
Bantuan Air Bersih Mulai Disalurkan
Situasi itu kemudian mendapat respons melalui penyaluran bantuan air bersih kepada warga Desa Langsar pada Senin (5/10/2026).
Bantuan tersebut disalurkan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Provinsi Jawa Timur bersama Baznas Kabupaten Sumenep. Penyaluran dilakukan dengan melibatkan Kodim 0827 Sumenep, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Sosial Kabupaten Sumenep.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi juga turut hadir dalam pendistribusian air bersih kepada masyarakat.
Ketua Baznas Sumenep Ahmad Rahman mengatakan, penyaluran tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak kekeringan.
“Kami Baznas Sumenep bersama Baznas Jawa Timur, bersama Bupati, BPBD dan Dinas Sosial, turun langsung memberikan bantuan air bersih kepada warga Langsar,” kata Ahmad Rahman.
Menurutnya, distribusi air bersih tidak akan berhenti pada satu wilayah. Baznas Sumenep akan terus melakukan penyaluran ke daerah lain yang mengalami krisis air akibat kemarau panjang.
Perhatian juga diarahkan ke wilayah kepulauan. Baznas menyatakan masyarakat di sejumlah wilayah kepulauan Sumenep turut menghadapi persoalan kekurangan air bersih.
“Kami akan terus melakukan distribusi air bersih ke daerah-daerah yang mengalami krisis air. Termasuk wilayah kepulauan, karena di sana juga banyak masyarakat yang terdampak kekeringan,” pungkas Ahmad Rahman.
Bagi warga Langsar, bantuan tersebut setidaknya menjadi penyangga di tengah kebutuhan air yang selama beberapa bulan harus dipenuhi dengan membeli.
Namun, kondisi yang berlangsung sejak Juli menunjukkan bahwa persoalan air bersih bukan sekadar kebutuhan sesaat. Ketika kemarau berkepanjangan membuat warga harus mengeluarkan uang untuk memperoleh air, akses terhadap kebutuhan dasar tersebut menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan berkelanjutan.