SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Pamaraya

Sampah Sungai Gembong Pasuruan Capai 7 Meter Kubik per Hari, Pemkot Minta Warga Tak Buang Sampah ke Sungai

Oleh Inul Gunawan   |   09 September 2026   |   07:30 WIB
Sampah Sungai Gembong Pasuruan Capai 7 Meter Kubik per Hari, Pemkot Minta Warga Tak Buang Sampah ke Sungai

PASURUAN | SIGAP88 – Bagi warga yang tinggal di sekitar aliran Sungai Gembong, sampah yang menumpuk bukan sekadar persoalan pemandangan. Ketika terbawa arus dan menumpuk di kawasan hilir, sampah dapat menghambat aliran air, menimbulkan bau, mengganggu kenyamanan lingkungan hingga meningkatkan risiko genangan saat debit sungai meningkat.

Persoalan itu menjadi perhatian Pemerintah Kota Pasuruan. Sebab, volume sampah yang terkumpul di hilir Sungai Gembong, khususnya kawasan sekitar Pelabuhan Kota Pasuruan, bisa mencapai sekitar 7 meter kubik setiap hari.

Tumpukan tersebut mayoritas merupakan sampah rumah tangga yang terbawa aliran dari bagian hulu.

Jika tidak segera diangkat, sampah yang terus berdatangan dapat membentuk tumpukan dan mempersempit jalur aliran air. Kondisi itu bukan hanya membuat sungai terlihat kotor, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan yang pada akhirnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Mulai dari bau tidak sedap, kualitas lingkungan yang menurun, hingga ancaman terganggunya kelancaran aliran ketika sungai harus menampung debit air lebih besar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pasuruan Gustap Purwoko mengatakan, menjaga Sungai Gembong tetap bersih merupakan bagian penting dalam mempertahankan fungsi drainase kota.

“Sungai Gembong memiliki peran penting dalam sistem drainase dan pengendalian air di Kota Pasuruan. Karena itu, kebersihan sungai harus dijaga agar fungsi drainase tetap optimal,” kata Gustap, Rabu (9/9/2026).

Menurut dia, besarnya volume sampah yang harus ditangani setiap hari membuat proses evakuasi tidak bisa dilakukan secara lambat. Sampah yang dibiarkan menumpuk akan semakin sulit ditangani dan berpotensi memperbesar dampaknya terhadap lingkungan sekitar.

“Penanganannya harus cepat dan berkelanjutan agar sampah tidak menumpuk. Trashboom dimanfaatkan sebagai penghalang sekaligus penangkap sampah yang mengapung atau terbawa arus sungai,” jelasnya.

penampakan sampah sungai gembong pasuruan 7 meter kubikPemkot Pasuruan kini memanfaatkan Trashboom dan Trash Rack Motor untuk mempercepat penanganan sampah di kawasan hilir.

Trashboom berfungsi menahan dan mengumpulkan sampah yang terbawa arus. Setelah terkonsentrasi, sampah kemudian diangkat menggunakan Trash Rack Motor sehingga proses evakuasi dapat berlangsung lebih cepat dibandingkan mengandalkan tenaga manual.

Sampah yang telah diangkat selanjutnya dibawa menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Blandongan, Kota Pasuruan.

Gustap menegaskan, teknologi tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi dampak sampah terhadap fungsi sungai dan lingkungan warga. Namun, upaya itu tidak akan cukup apabila sampah terus dibuang ke sungai.

“Sebanyak apa pun sampah yang diangkut, akan terus bertambah apabila kebiasaan membuang sampah ke sungai tidak dihentikan. Sungai bukan tempat sampah,” tegasnya.

Ia mengajak masyarakat melihat persoalan sampah sungai bukan hanya sebagai urusan pemerintah. Sebab, sampah yang dibuang sembarangan pada akhirnya dapat kembali menjadi persoalan bagi masyarakat sendiri.

Sampah yang dibuang ke sungai bisa berujung pada sungai tersumbat, lingkungan berbau, air menggenang, dan warga yang harus menanggung dampaknya.

Karena itu, Gustap mendorong masyarakat untuk menghentikan kebiasaan membuang sampah ke aliran sungai.

“Jangan tunggu sampai sungai penuh sampah baru kita peduli. Jangan biarkan sampah kita menjadi masalah bagi orang lain,” katanya.

Menurutnya, menjaga kebersihan Sungai Gembong harus dilakukan bersama. Pemerintah memiliki kewajiban melakukan pengangkutan dan penanganan, sedangkan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

“Sungai bersih bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Sampahmu berhenti di tempat sampah, bukan di sungai,” tandasnya.

Gustap berharap kesadaran tersebut menjadi kebiasaan bersama sehingga Sungai Gembong tidak hanya terbebas dari tumpukan sampah, tetapi juga tetap mampu menjalankan fungsinya bagi kota dan masyarakat.

“Jangan warisi generasi muda Kota Pasuruan dengan Sungai Gembong yang tercemar. Mari kita wariskan sungai yang bersih, mengalir tanpa sampah dan tetap terjaga kelestariannya,” pungkasnya.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88