SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Madura Raya

Karnaval Ketawang Larangan Sumenep, Jejak Pahlawan dan Pesan Regenerasi Desa Maju

Oleh Ainiyah   |   30 Agustus 2026   |   21:20 WIB
Karnaval Ketawang Larangan Sumenep, Jejak Pahlawan dan Pesan Regenerasi Desa Maju

SUMENEP | SIGAP88 — Pawai karnaval memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Kabupaten Sumenep, tidak berhenti pada kemeriahan kostum dan iring-iringan warga.

Di balik perpaduan budaya Madura dengan sentuhan musik modern, terselip pesan tentang bagaimana sebuah desa menanamkan semangat perjuangan kepada generasi penerus.

Salah satu atraksi yang mencuri perhatian adalah penampilan dua anak yang menunggang kuda dalam iring-iringan karnaval. Adegan tersebut menjadi simbolisasi perjuangan dua tokoh yang lekat dengan sejarah perjuangan bangsa, yakni Pangeran Diponegoro dan Jenderal Sudirman.

Pesan yang ingin disampaikan sederhana, tetapi memiliki makna panjang: perjuangan tidak boleh berhenti pada generasi yang telah mengisi sejarah. Semangat itu harus diwariskan kepada anak-anak sebagai generasi yang kelak menentukan arah pembangunan desa dan bangsa.

Kepala Desa Ketawang Larangan, Zaini, mengatakan konsep tersebut sengaja dihadirkan untuk mengingatkan masyarakat bahwa kemerdekaan Indonesia lahir dari perjuangan yang tidak mengenal pamrih.

“Dua tokoh sentral pejuang kemerdekaan RI merupakan pejuang tanpa pamrih. Maka dari itu kita sebagai penerusnya harus mempunyai semangat juang yang tinggi dalam membangun peradaban, baik desa maupun bangsa,” kata Zaini, Minggu, (30/8).

Menurut dia, keterlibatan anak-anak dalam karnaval bukan sekadar bagian dari pertunjukan. Mereka menjadi simbol bahwa pembangunan desa harus dipersiapkan sejak sekarang melalui pembentukan generasi yang memiliki semangat kebangsaan dan kepedulian terhadap lingkungan sosialnya.

Karena itu, semangat perjuangan para pahlawan diharapkan tidak berhenti sebagai cerita sejarah, tetapi diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari melalui gotong royong, persatuan dan kepedulian membangun desa.

Nuansa lokal juga begitu kuat. Para pengiring mengenakan busana kebesaran khas Madura, berpadu dengan konsep pertunjukan modern. Perpaduan tersebut menggambarkan identitas masyarakat Ketawang Larangan yang tetap menjaga akar budaya di tengah perubahan zaman.

Bagi Zaini, kemajuan desa tidak cukup hanya diukur dari pembangunan fisik. Ada fondasi sosial yang harus terus dijaga, yakni kebersamaan masyarakat dan keterbukaan dalam pengelolaan pembangunan.

“Dengan semangat perjuangan bersama kita optimistis Desa Ketawang Larangan menjadi desa yang maju, yang menjunjung tinggi transparansi dalam membangun desa,” ujarnya.

Ia menambahkan, peringatan HUT ke-81 RI menjadi momentum untuk memperkuat kembali nasionalisme sekaligus menghidupkan semangat persatuan dan gotong royong di tengah masyarakat.

Kemerdekaan, kata dia, merupakan hasil perjuangan panjang para pahlawan. Karena itu, generasi sekarang memiliki tanggung jawab untuk mengisinya dengan kerja nyata dan kontribusi bagi lingkungan masing-masing.

“Kemerdekaan diraih dengan perjuangan para pahlawan. Maka, kita wajib mengisi kemerdekaan ini dengan kobaran semangat para pahlawan dalam membangun desa,” pungkasnya.

Bagi warga Ketawang Larangan, karnaval bukan sekadar parade untuk memeriahkan ulang tahun kemerdekaan. Momentum ini menjadi ruang untuk merawat ingatan sejarah, menunjukkan identitas budaya Madura sekaligus menitipkan pesan kepada generasi muda bahwa masa depan desa berada di tangan mereka.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88