SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Pamaraya

Sarasehan Sejarah Kota Pasuruan Ajak Warga Kritis Membaca Cerita Rakyat

Oleh Inul Gunawan   |   27 Agustus 2026   |   17:07 WIB
Sarasehan Sejarah Kota Pasuruan Ajak Warga Kritis Membaca Cerita Rakyat

PASURUAN | SIGAP88 – Cerita rakyat tidak sekadar menjadi warisan tutur yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di balik kisah yang berkembang di tengah masyarakat, tersimpan nilai budaya dan identitas daerah yang penting untuk dijaga, namun tetap perlu dibaca secara kritis agar tidak serta-merta dianggap sebagai fakta sejarah.

Perspektif tersebut mengemuka dalam Sarasehan Sejarah yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan di halaman depan Gedung Harmoni, Kota Pasuruan, Rabu (26/8/2026).

Mengusung tema “Menyikapi Cerita Rakyat dalam Arus Sejarah”, kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Forum ini mempertemukan ratusan mantan pejuang se-Kota Pasuruan, pegiat sejarah, seniman, budayawan, mahasiswa, serta pemerhati budaya.

Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo mengatakan, cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang harus dipelihara keberlangsungannya. Namun, dalam mempelajari sejarah lokal, masyarakat perlu mampu membedakan antara cerita yang hidup secara turun-temurun dengan fakta yang memiliki dukungan sumber dan bukti.

“Cerita rakyat sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber informasi, bukan sebagai satu-satunya bukti sejarah. Untuk itu kita perlu membandingkannya dengan bukti fisik seperti arsip, prasasti, peninggalan purbakala, hingga catatan perjalanan,” kata Adi.

Menurut dia, cara pandang kritis diperlukan agar generasi muda tidak hanya menjadi pendengar sekaligus penerus cerita, tetapi juga mampu memahami konteks dan menelusuri sumber yang mendasari sebuah kisah.

Penelusuran tersebut, lanjut Adi, penting ketika cerita rakyat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Dengan demikian, upaya melestarikan warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan kaidah dalam memahami sejarah.

“Penelusuran sumber dan bukti menjadi bagian penting ketika sebuah cerita rakyat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa menjaga warisan budaya tanpa mengabaikan kaidah dalam memahami sejarah,” ujarnya.

Pj. Sekretaris Daerah Kota Pasuruan Lucky Danardono menambahkan, penguatan literasi sejarah diperlukan agar masyarakat tidak hanya mengetahui perjalanan daerah, tetapi juga memahami akar budaya yang membentuk identitas masyarakat Pasuruan.

Ia menilai sejarah tidak selalu hadir dalam bentuk catatan tertulis. Cerita yang berkembang di tengah masyarakat juga dapat menjadi bahan untuk memahami nilai sosial dan budaya, sepanjang ditempatkan sesuai konteks dan tidak langsung diposisikan sebagai fakta sejarah.

“Karena itu, pemerintah kota mendorong ruang dialog yang mempertemukan generasi muda dengan pelaku budaya dan pemerhati sejarah. Forum tersebut diharapkan membuat pembelajaran sejarah lokal lebih dekat dengan kehidupan masyarakat,” tuturnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Siti Rochana juga mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan sejarah dan budaya lokal.

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui kegiatan seremonial. Dibutuhkan keterlibatan lintas generasi agar pengetahuan mengenai sejarah, tradisi, serta kesenian daerah tetap hidup dan dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

Dalam sarasehan tersebut, peserta diajak mengurai perbedaan antara cerita rakyat, legenda, mitos, dan fakta sejarah. Pembahasan ini menjadi penting karena tradisi lisan memiliki karakter dan kedudukan berbeda dengan fakta sejarah yang didukung sumber maupun bukti.

Tak hanya menghadirkan diskusi, kegiatan juga dikemas dengan pertunjukan seni tradisional. Rangkaian acara diawali registrasi peserta, kemudian dilanjutkan penampilan Terbang Bandung dan musik keroncong. Pembukaan resmi semakin semarak dengan Tari Sekar Paravan.

Mocopatan turut ditampilkan sebagai bagian dari pengenalan seni tutur tradisional Jawa. Seni tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi lisan sejak dahulu menjadi media masyarakat untuk menyampaikan cerita, pesan moral, sekaligus nilai-nilai budaya.

Memasuki sesi utama, Sulikin dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI dan Sisco, dosen Universitas Ciputra Surabaya, hadir sebagai narasumber. Keduanya mengupas posisi cerita rakyat dalam perspektif sejarah dan kebudayaan melalui dialog interaktif bersama peserta.

Berbagai cerita rakyat yang berkembang di Kota Pasuruan turut menjadi bahan diskusi. Peserta diajak melihat cerita rakyat bukan semata sebagai kisah masa lalu, melainkan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sosial sekaligus dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri sejarah daerah.

Sulikin menegaskan, pelestarian cerita rakyat harus berjalan bersama dengan kemampuan untuk menelaah sumber dan konteksnya.

“Cerita rakyat harus kita telusuri, telaah, dan teladani nilai baiknya. Jangan semua cerita langsung dianggap sebagai fakta sejarah tanpa melihat sumber dan konteksnya,” pungkasnya.

Melalui sarasehan tersebut, Pemkot Pasuruan mendorong agar sejarah lokal tidak berhenti sebagai cerita yang diwariskan, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang dipahami secara kritis sekaligus tetap menghargai akar budaya masyarakat.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88