SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Politik & Pemerintahan

Gubernur Jatim Khofifah: Anak Korban Gempa Flores Tak Boleh Kehilangan Mimpi

Oleh Tudji   |   24 Agustus 2026   |   10:47 WIB
Gubernur Jatim Khofifah: Anak Korban Gempa Flores Tak Boleh Kehilangan Mimpi

MANGGARAI | SIGAP88 – Gempa bumi tidak hanya meninggalkan kerusakan pada bangunan. Bagi anak-anak, bencana juga dapat meninggalkan ketakutan yang tidak terlihat.

Karena itu, pemulihan pascagempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dinilai tidak boleh berhenti pada distribusi makanan, pakaian, tempat tinggal sementara maupun bantuan kebutuhan dasar. Kondisi psikologis anak-anak juga membutuhkan perhatian serius dan pendampingan yang tidak dilakukan secara seremonial.

Pesan tersebut mengemuka ketika Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengunjungi anak-anak terdampak gempa di SD Inpres Robo, Desa Ranaka, Kecamatan Wae Ri’i, Kabupaten Manggarai, Minggu (23/8/2026).

Dalam kunjungan yang dibarengi penyerahan bantuan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama dukungan CSR, Khofifah justru memilih membangun suasana yang lebih ringan di tengah kondisi pascabencana.

Anak-anak diajak berbicara mengenai cita-cita.

Pertanyaan sederhana tentang siapa yang ingin menjadi gubernur, bupati, tentara, hingga polisi langsung disambut tangan-tangan kecil yang terangkat. Suasana yang semula penuh keprihatinan berubah menjadi lebih ceria.

“Kalau sekolah sudah bisa digunakan, siap sekolah lagi?” tanya Khofifah.

“Siap!” jawab anak-anak serentak.

Jawaban itu menjadi gambaran bahwa di tengah situasi sulit, keinginan anak-anak untuk kembali ke kehidupan normal tetap ada.

Khofifah kemudian mengajak mereka bernyanyi. Lagu Hari Merdeka dan Garuda Pancasila berkumandang di lingkungan sekolah. Anak-anak ikut bernyanyi dan mengikuti gerakan tangan yang diperagakan Khofifah.

Namun, di balik keceriaan tersebut terdapat persoalan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan bernyanyi atau memberikan bantuan sesaat.

Trauma akibat bencana membutuhkan proses pemulihan.

Pemprov Jatim telah mengirimkan tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) ke wilayah terdampak. Empat personel telah berada di lokasi selama tiga hari untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak, orang tua dan lansia.

Layanan tersebut mencakup penguatan psikologis, konseling dan trauma healing.

“Prosesnya tidak cukup hanya sekali. Penguatan, konseling dan trauma healing ini membutuhkan waktu,” kata Khofifah.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena dampak psikologis bencana sering kali tidak langsung terlihat. Anak yang tampak kembali bermain belum tentu sepenuhnya terbebas dari rasa takut. Begitu pula orang tua dan lansia yang mungkin menyimpan kecemasan setelah mengalami gempa.

Dalam kondisi seperti itu, pemulihan tidak cukup diukur dari seberapa cepat bantuan logistik tiba atau seberapa cepat bangunan diperbaiki.

Ada ukuran lain yang sama pentingnya: kapan anak-anak kembali merasa aman, kapan mereka berani kembali ke sekolah, dan kapan kehidupan mereka mulai berjalan normal.

Sekolah Menjadi Titik Penting Pemulihan

Bagi anak-anak korban bencana, sekolah bukan sekadar tempat belajar. Sekolah juga menjadi ruang untuk kembali bertemu teman, bermain, berinteraksi dengan guru dan membangun kembali rutinitas setelah kehidupan mereka terguncang.

Karena itu, memastikan fasilitas pendidikan aman untuk digunakan menjadi bagian penting dalam proses pemulihan.

Khofifah meminta anak-anak bersabar hingga kondisi sekolah benar-benar dinyatakan aman. Setelah fasilitas memungkinkan digunakan kembali, anak-anak diharapkan dapat kembali belajar dan mengejar cita-cita.

Pesan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana harus menempatkan anak sebagai kelompok yang mendapat perhatian khusus.

Mereka membutuhkan makanan dan tempat tinggal, tetapi juga membutuhkan rasa aman.

Mereka membutuhkan perlengkapan sekolah, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk kembali belajar.

Dan mereka membutuhkan bantuan pemerintah, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang membuat mereka merasa tidak sendirian.

Jangan Berhenti Setelah Tenda Dibongkar

Tantangan terbesar penanganan bencana sering kali muncul ketika sorotan publik mulai berkurang.

Pada fase awal, bantuan berdatangan. Relawan bergerak. Posko dibuka. Media memberitakan. Pemerintah hadir.

Namun, setelah situasi mulai dianggap normal, kebutuhan korban justru dapat memasuki fase yang lebih panjang dan tidak selalu terlihat.

Trauma, kehilangan tempat tinggal, perubahan kondisi ekonomi keluarga, gangguan pendidikan dan rasa takut menghadapi gempa susulan dapat berlangsung jauh lebih lama dibanding masa tanggap darurat.

Karena itu, pendampingan psikososial perlu dipastikan tidak berhenti setelah satu atau dua kali kegiatan.

Anak-anak korban gempa harus mendapatkan kesempatan untuk kembali menjalani kehidupan sebagaimana sebelum bencana: bersekolah, bermain, bertemu teman dan berani membangun cita-cita.

Khofifah pun mengajak seluruh pihak ikut menjaga proses tersebut.

Orang tua, guru, tenaga kesehatan, pemerintah daerah, relawan dan masyarakat sekitar memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak selama masa pemulihan.

“Kita semua bersaudara. Kita hadir bersama-sama untuk membantu saudara-saudara kita di sini,” ujarnya.

Kepada anak-anak, Khofifah juga menyampaikan pesan agar mereka tetap kuat menghadapi situasi pascabencana.

“Anak-anakku, kalian tidak sendiri. Kita semua bersaudara. Tetap semangat, sehat dan kuat untuk menghadapi ujian ini,” katanya.

Pesan itu barangkali sederhana. Tetapi bagi anak yang baru saja mengalami bencana, keyakinan bahwa mereka tidak sendirian bisa menjadi bagian penting dari proses untuk kembali bangkit.

Sebab pada akhirnya, pemulihan pascagempa bukan hanya tentang membangun kembali rumah dan sekolah yang rusak. Lebih dari itu, pemerintah dan masyarakat harus membantu membangun kembali keberanian anak-anak untuk menatap masa depan.

Dan ketika seorang anak kembali berani bermimpi, di situlah pemulihan sesungguhnya mulai menemukan maknanya.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88