SURABAYA | SIGAP88 — Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Balai Kota Surabaya, Senin (17/8/2026), berlangsung dalam suasana khidmat sekaligus semarak.
Upacara bendera tidak hanya menjadi momentum mengenang perjuangan para pahlawan. Nuansa kebudayaan Nusantara turut hadir melalui busana adat, kirab bendera pusaka hingga pertunjukan tari kolosal yang mengangkat semangat Pancasila.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi bersama Ketua TP-PKK Kota Surabaya Rini Indriyani tampil mengenakan pakaian adat Teluk Belanga dari Kepulauan Riau.
Kehadiran busana adat tersebut menjadi bagian dari pesan keberagaman yang mewarnai peringatan kemerdekaan di halaman Balai Kota Surabaya. Upacara dihadiri jajaran Forkopimda, pejabat Pemkot Surabaya, tamu undangan serta ratusan warga.
Rangkaian upacara diawali kirab bendera pusaka, dilanjutkan pengibaran Sang Merah Putih dan mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan.
Suasana kemudian berubah semakin semarak ketika halaman Balai Kota disuguhkan tari kolosal bertema “Kampung Pancasila”.
Pertunjukan itu menggambarkan kehidupan masyarakat yang menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai bagian dari keseharian. Gotong royong, kepedulian terhadap sesama dan semangat bersama untuk mengurangi kesenjangan serta kemiskinan menjadi pesan utama yang disampaikan.
Bagi Eri, nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti sebagai simbol dalam perayaan kemerdekaan.
Ia menegaskan, kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi kerja nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
“Semangat kemerdekaan tidak hanya kita rayakan setiap 17 Agustus, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
966 PNS Terima Satyalancana Karya Satya
Momentum HUT ke-81 RI juga menjadi ruang penghargaan bagi aparatur sipil negara yang telah mengabdikan diri kepada pemerintah dan masyarakat.
Sebanyak 966 PNS Pemkot Surabaya menerima Satyalancana Karya Satya atas masa pengabdian selama 10, 20 dan 30 tahun.
Eri meminta penghargaan tersebut tidak sekadar dipandang sebagai bentuk apresiasi, tetapi juga pengingat atas tanggung jawab sebagai pelayan masyarakat.
Menurut dia, semakin panjang masa pengabdian seorang aparatur, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga integritas dan kualitas pelayanan publik.
“Kita disumpah untuk kepentingan rakyat, maka kita harus memberikan apa yang kita miliki demi kepentingan masyarakat Kota Surabaya. Kita harus menghindari korupsi dan terus menjaga kualitas pelayanan publik,” tegasnya.
Anak Muda Jangan Hanya Jadi Penonton
Pesan kemerdekaan Eri tidak hanya ditujukan kepada aparatur pemerintahan. Generasi muda Surabaya juga menjadi bagian penting dalam arah pembangunan kota.
Ia meminta anak-anak muda tidak berhenti sebagai penonton, tetapi mengambil peran dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi masyarakat.
Semangat perjuangan para pendahulu, kata Eri, harus diwujudkan melalui aksi nyata dari lingkungan paling dekat.
“Pada momentum ini, saya mengajak seluruh pemuda Surabaya untuk tidak hanya menjadi penonton pasif, melainkan mewarisi ‘api perjuangan’ Bung Karno dengan terlibat aktif menjaga dan mempertahankan kemerdekaan di kota ini,” katanya.
Eri menyebut sejumlah persoalan kota membutuhkan energi dan keterlibatan generasi muda. Mulai pengentasan kemiskinan, penurunan stunting, pencegahan anak putus sekolah hingga pemberantasan kekerasan dan premanisme.
Pemerintah Kota Surabaya, lanjut dia, juga membuka ruang lebih luas bagi anak muda untuk mengambil bagian dalam penguatan ekonomi.
Sektor hotel, restoran dan kafe atau Horeka menjadi salah satu bidang yang dapat dikembangkan, selain penguatan UMKM yang digerakkan generasi muda.
Bahkan, mulai pekan depan Pemkot Surabaya akan mengumpulkan perwakilan anak muda dari seluruh RW.
Mereka akan diajak menyusun deklarasi bersama sebagai komitmen menjaga keamanan, ketertiban serta kesejahteraan di lingkungan masing-masing.
Semangat Kemerdekaan Dimulai dari Lingkungan
Eri menilai semangat kemerdekaan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Justru, nilai perjuangan dapat tumbuh dari lingkungan tempat masyarakat tinggal, bekerja dan berinteraksi setiap hari.
Ia kemudian mengaitkan semangat tersebut dengan sejarah Paskibraka pada 1946 yang menjadi bagian dari simbol nasionalisme dan keterlibatan generasi muda dalam perjalanan bangsa.
Semangat itulah, menurut Eri, yang perlu diwariskan kepada anak-anak muda Surabaya saat ini.
“Karakter itulah yang harus dimiliki dan melekat pada seluruh anak muda di Kota Surabaya saat ini,” pungkasnya.
Dengan demikian, peringatan HUT ke-81 RI di Balai Kota Surabaya tidak berhenti pada seremoni pengibaran Sang Merah Putih.
Pesan yang dibangun justru mengarah pada bagaimana kemerdekaan diterjemahkan menjadi pengabdian, pelayanan publik yang bersih, kepedulian sosial serta keberanian generasi muda untuk ikut menentukan masa depan kotanya.