SIGAP88
SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Catatan Abdul Hanan

Mengapa Allah Menyembunyikan Suara dari Alam Kubur?

Oleh Abdul Hanan   |   09 Agustus 2026   |   01:45 WIB
Mengapa Allah Menyembunyikan Suara dari Alam Kubur?

Oleh: Abdul Hanan

Pernahkah engkau membayangkan, di bawah tanah yang setiap hari kita lewati, ada kehidupan yang berlangsung?

Ada yang beristirahat dalam rahmat-Nya.

Ada pula yang mungkin sedang menyesali seluruh hidupnya.

Namun kita tidak mendengar apa pun.

Tidak ada suara yang sampai ke telinga kita.

Dunia tetap berjalan seolah semuanya baik-baik saja.

Orang-orang tetap melintas.

Kendaraan tetap berlalu.

Pasar tetap ramai.

Anak-anak tetap bermain.

Lampu-lampu kota tetap menyala.

Sementara beberapa meter di bawah kaki kita, ada manusia yang pernah hidup bersama kita.

Mereka pernah tertawa.

Pernah menangis.

Pernah mencintai.

Pernah marah.

Pernah mengejar harta.

Pernah mengejar jabatan.

Pernah melakukan kebaikan.

Dan mungkin pernah melakukan kesalahan yang sangat mereka sesali.

Kini mereka telah meninggalkan dunia.

Tubuh mereka telah ditutup tanah.

Nama mereka mungkin masih disebut keluarga.

Tetapi kehidupan mereka di dunia telah selesai.

Kita menyebut tempat itu kuburan.

Sebuah tempat yang sering kita datangi ketika seseorang yang kita cintai meninggal.

Kita mengantarkan jenazah.

Kita berdiri di tepi liang lahat.

Kita menyaksikan tubuh yang dahulu berjalan bersama kita perlahan diturunkan ke dalam tanah.

Kemudian tanah ditutup.

Doa dipanjatkan.

Dan kita pulang.

Yang tersisa hanya kesunyian.

Tetapi pernahkah kita benar-benar memikirkan apa arti kesunyian itu?

Mengapa kita tidak mendengar apa pun dari dalam tanah?

Mengapa manusia yang berjalan melewati pemakaman tidak mendengar suara dari alam kubur?

Mengapa telinga kita tidak diberi kemampuan untuk mendengar apa yang terjadi di sana?

Pertanyaan itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi semakin direnungkan, semakin dalam maknanya.

Alam kubur adalah perkara gaib.

Karena itu, kita tidak seharusnya berbicara tentang apa yang terjadi di dalamnya dengan kepastian berdasarkan dugaan.

Kita tidak melihatnya.

Kita tidak mendengarnya.

Kita tidak mengalaminya.

Yang kita miliki adalah apa yang diterangkan dalam agama tentang kehidupan setelah kematian.

Selebihnya, ada batas yang tidak diberikan kepada manusia untuk ditembus.

Dan mungkin memang demikian seharusnya.

Sebab manusia tidak diciptakan untuk mengetahui seluruh rahasia Allah.

Ada hal-hal yang harus kita imani tanpa melihatnya.

Ada perkara yang harus kita yakini tanpa mendengarnya.

Di situlah iman diuji.

Bayangkan jika setiap kali melewati pemakaman, engkau mendengar jeritan penyesalan dari dalam tanah.

Bayangkan jika setiap kali engkau ikut mengantar jenazah, engkau mendengarkan ketakutan yang tak pernah mampu digambarkan dengan kata-kata.

Bayangkan jika setiap liang lahat yang kita lewati memperdengarkan kepada kita apa yang sedang dialami penghuninya.

Mungkin banyak dari kita tidak akan mampu tidur dengan nyenyak.

Mungkin kita tidak akan berani lagi berjalan melewati pemakaman seorang diri.

Mungkin kita akan lebih berhati-hati dalam menjalani kehidupan.

Tetapi apakah manusia akan benar-benar berubah karena kesadaran?

Atau hanya karena ketakutan?

Kita tidak tahu.

Yang kita tahu, Allah tidak memperlihatkan seluruh perkara gaib itu kepada kita.

Kita tetap berjalan di atas tanah pemakaman tanpa mendengar apa pun.

Kita tetap pulang setelah mengantar jenazah.

Lalu esok hari kita kembali bekerja.

Kembali mencari uang.

Kembali mengejar jabatan.

Kembali mengejar popularitas.

Kembali memikirkan urusan dunia.

Seolah kematian hanya milik mereka yang telah dikuburkan.

Padahal tidak.

Kematian bukan milik mereka saja.

Kematian adalah perjalanan yang sedang menunggu kita semua.

Hanya waktunya yang berbeda.

Dan mungkin di situlah manusia sering tertipu.

Kita melihat orang lain meninggal, tetapi merasa diri kita masih memiliki banyak waktu.

Kita melihat tanah menutup tubuh orang lain, tetapi lupa bahwa suatu hari tanah yang sama akan menutup tubuh kita.

Kita menangisi orang yang pergi, kemudian beberapa hari setelahnya kembali sibuk dengan kehidupan.

Sampai akhirnya kita kembali lupa bahwa kita pun sedang berjalan menuju tempat yang sama.

Maka mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

Mengapa kita tidak bisa mendengar suara dari alam kubur?

Tetapi:

Mengapa kita masih sering lupa bahwa suatu hari kita sendiri akan berada di sana?

Kita ingin mengetahui apa yang terjadi setelah kematian.

Tetapi terkadang kita lupa mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Kita ingin tahu bagaimana keadaan mereka yang telah pergi.

Tetapi jarang bertanya:

Jika malam ini aku yang dipanggil Allah, apa yang sudah aku siapkan?

Pertanyaan itu mungkin jauh lebih dekat.

Dan mungkin jauh lebih menakutkan.

Sebab ketika seseorang telah berada di dalam tanah, tidak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia hanya untuk memperbaiki satu kesalahan.

Tidak ada lagi kesempatan untuk meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti.

Tidak ada lagi kesempatan untuk mengembalikan hak yang pernah kita ambil.

Tidak ada lagi kesempatan untuk mengatakan kepada orang tua bahwa kita mencintainya.

Tidak ada lagi kesempatan untuk bersujud dan berkata:

“Ya Allah, aku ingin memperbaiki hidupku.”

Kesempatan itu hanya ada selama kita masih hidup.

Selama napas masih keluar masuk.

Selama mata masih dapat terbuka.

Selama kaki masih dapat melangkah menuju tempat yang baik.

Selama hati masih diberi kemampuan untuk merasa bersalah.

Maka malam ini, sebelum tidur, cobalah berhenti sejenak.

Jauhkan telepon.

Matikan suara dunia.

Biarkan kamar menjadi sunyi.

Kemudian tanyakan kepada dirimu sendiri:

Jika malam ini adalah malam terakhirku di dunia, amal apa yang paling ingin kubawa?

Jangan berhenti di sana.

Tanyakan lagi:

Dan dosa apa yang paling ingin kusesali?

Jawablah dengan jujur.

Bukan dengan jawaban yang ingin didengar orang lain.

Tetapi dengan jawaban yang benar-benar keluar dari hati.

Sebab manusia bisa menyembunyikan banyak hal dari manusia lain.

Kita bisa terlihat baik di hadapan orang.

Kita bisa membangun citra.

Kita bisa menyembunyikan kesalahan.

Kita bisa membuat dunia percaya bahwa hidup kita baik-baik saja.

Tetapi tidak ada yang tersembunyi dari Allah.

Karena itu, mungkin kita tidak perlu mendengar jeritan dari alam kubur untuk belajar takut.

Kita sudah cukup melihat kematian datang kepada orang-orang di sekitar kita.

Kita sudah cukup menyaksikan satu demi satu nama yang dahulu memenuhi kehidupan kita kini hanya tinggal kenangan.

Kita sudah cukup berdiri di tepi liang lahat.

Kita sudah cukup melihat tanah jatuh perlahan menutup tubuh seseorang.

Bukankah semua itu sudah menjadi peringatan?

Mungkin Allah tidak memperdengarkan suara dari alam kubur karena manusia masih diberi kesempatan untuk memilih sebelum sampai ke sana.

Masih diberi waktu untuk bertobat.

Masih diberi waktu untuk meminta maaf.

Masih diberi waktu untuk memperbaiki hubungan.

Masih diberi waktu untuk meninggalkan sesuatu yang salah.

Masih diberi waktu untuk melakukan kebaikan.

Dan masih diberi waktu untuk pulang kepada-Nya.

Sebab bisa jadi, yang paling berbahaya bukan karena kita tidak dapat mendengar suara dari alam kubur.

Yang lebih berbahaya adalah ketika hati kita sudah tidak mampu mendengar peringatan apa pun.

Ketika dosa tidak lagi membuat kita gelisah.

Ketika menyakiti orang lain dianggap biasa.

Ketika meminta maaf terasa sebagai sebuah kehinaan.

Ketika kesombongan dianggap sebagai kekuatan.

Dan ketika kematian hanya menjadi berita tentang orang lain.

Malam ini kita masih mendengar suara dunia.

Masih bisa berbicara.

Masih bisa tertawa.

Masih bisa menangis.

Masih bisa bersujud.

Masih bisa meminta maaf.

Masih bisa memperbaiki kesalahan.

Tetapi kita tidak pernah tahu apakah esok pagi masih menjadi milik kita.

Mungkin karena itu, jangan terlalu sibuk meminta Allah memperlihatkan kepada kita apa yang ada di balik tanah.

Cukuplah kita menyadari bahwa suatu hari kita akan berada di sana.

Biarkan alam kubur tetap menjadi rahasia-Nya.

Kita tidak harus mendengar suaranya.

Kita hanya perlu mendengar suara hati sendiri.

Sebab mungkin, selama ini Allah tidak sedang menunggu kita mendengar suara dari dalam kubur.

Allah sedang memberi kita kesempatan untuk mendengar suara hati yang berkata:

Perbaiki hidupmu sebelum waktumu habis.

Mintalah maaf sebelum tidak ada lagi kesempatan.

Kembalikan hak sebelum semuanya terlambat.

Bertobatlah sebelum pintu kesempatan itu tertutup.

Dan yang paling penting:

Pulanglah kepada Allah sebelum kita benar-benar dipulangkan.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88