SIGAP88
SIGAP88
PORTAL BERITA JAWA TIMUR
Hukrim

Kursi Taman Pemkot Surabaya Diduga Dicuri, Diangkut Ambulans hingga Masuk Pengepul

Oleh Abdul Hanan   |   08 Agustus 2026   |   01:42 WIB
Kursi Taman Pemkot Surabaya Diduga Dicuri, Diangkut Ambulans hingga Masuk Pengepul

SURABAYA | SIGAP88 — Ada yang janggal dari perjalanan dua kursi taman milik Pemerintah Kota Surabaya. Fasilitas publik yang semestinya berada di ruang terbuka untuk digunakan warga itu justru ditemukan di atas timbangan sebuah pengepul barang bekas.

Lebih janggal lagi, berdasarkan keterangan yang muncul dalam pemeriksaan polisi, dua kursi tersebut diduga tidak diangkut menggunakan kendaraan pengangkut barang, melainkan ambulans pribadi.

Kendaraan itu diduga datang membawa kursi, menurunkannya di tempat pengepul, lalu meninggalkan lokasi sebelum petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya tiba.

Dengan begitu, yang ditemukan petugas bukan kendaraan pengangkutnya, melainkan “ujung” dari sebuah rangkaian: dua kursi aset pemerintah, tempat pengepul, seorang pria yang datang menggunakan sepeda motor, serta surat jalan yang diduga bermasalah.

Kasus ini kini ditangani kepolisian.

FAKTA KUNCI

– Dua kursi ditemukan di pengepul barang bekas di Jalan Kaliwaron, Mojo, Gubeng.
– Kursi dipastikan merupakan aset Pemkot Surabaya.
– Kedua kursi sudah berada di atas timbangan ketika petugas datang.
– Seorang pria datang menggunakan sepeda motor dan diamankan.
– Ia disebut menunjukkan surat jalan yang diduga palsu.
– Penggunaan ambulans pribadi baru terungkap saat pemeriksaan di kepolisian.
– Ambulans disebut berasal dari luar Surabaya.
– Salah satu terduga disebut warga Kabupaten Sumenep.
– Polisi masih menelusuri dugaan keterlibatan seorang perempuan di Sumenep.

Bermula dari Patroli Bangunan Liar

Kasus tersebut terbongkar bukan karena operasi khusus pencurian aset.

Pada 23 Juni 2026, personel Satpol PP Kota Surabaya tengah melakukan patroli di Jalan Kaliwaron. Sasaran utama patroli adalah pengawasan bangunan liar.

Namun, mata petugas justru tertuju pada dua kursi yang berada di sebuah tempat penjualan barang bekas.

irna satpol PP Surabaya
Plt. Kepala Satpol Pp Kota Surabaya, Irna Pawanti Dalam Konferensi Pers.

Plt Kepala Satpol PP Kota Surabaya Irna Pawanti mengatakan, petugas langsung merasa kursi tersebut memiliki kemiripan dengan fasilitas taman milik Pemkot Surabaya.

“Pagi-pagi kami melihat di tempat penjualan barang bekas itu ada dua kursi, sehingga pasukan kami putar balik dan memastikan itu seperti kursi Pemkot yang ada di taman-taman,” kata Irna, Kamis (6/8/2026).

Petugas kemudian kembali ke lokasi untuk melakukan pengecekan.

Hasilnya menguatkan kecurigaan.

Dua kursi tersebut dipastikan merupakan aset Pemkot Surabaya. Bahkan, ketika petugas tiba, keduanya sudah berada di atas timbangan.

“Benar adanya bahwa itu kursi Pemkot ada dua buah. Saat kami sampai di lokasi setelah putar balik, kursi sudah berada di atas timbangan,” ujar Irna.

Di titik itu, perkara yang awalnya tidak masuk dalam agenda patroli berubah menjadi dugaan pencurian aset fasilitas publik.

Surat Jalan Justru Menambah Kecurigaan

Petugas kemudian mendapati seorang pria yang datang menggunakan sepeda motor.

Alih-alih memberikan penjelasan sederhana mengenai asal-usul kursi, pria tersebut menunjukkan sebuah surat jalan.

Menurut Satpol PP, dokumen itu justru dicurigai tidak sah.

“Yang bersangkutan menunjukkan surat jalan. Kita tengarai surat jalannya itu surat jalan palsu, seakan-akan memang dia mendapat tugas untuk melakukan penjualan barang,” ungkap Irna.

Keterangan mengenai surat jalan tersebut kini menjadi salah satu bagian yang perlu diuji penyidik.

Sebab, apabila benar dokumen tersebut palsu, persoalannya tidak lagi berhenti pada bagaimana kursi pemerintah bisa berpindah dari fasilitas umum ke pengepul.

Ada pertanyaan berikutnya: siapa yang membuat, memberikan, atau menggunakan dokumen tersebut?

Dan untuk kepentingan apa?

Satpol PP kemudian membawa pria tersebut bersama pihak pengepul ke Polsek Gubeng, Polrestabes Surabaya.

Ambulans Muncul dalam Pemeriksaan Polisi

barang bukti kursi besi milik pemkot surabaya yang dicuri malaing 1786084121611 169
Penampakan Kursi Besi Taman Milik Pemkot Surabaya Yang Diduga Dicuri Dan Diangkut Dengan Menggunakan Mobil Ambulans, Kini Barang Bukti Tersebut Berada Di Mapolsek Gubeng Surabaya. (Dok. Polsek Gubeng).

Di sinilah modus yang tidak biasa itu mulai terbuka.

Saat petugas Satpol PP tiba di lokasi pengepul, tidak ada ambulans.

Kendaraan yang diduga digunakan mengangkut kursi sudah pergi.

Informasi mengenai ambulans justru diketahui setelah para pihak dibawa untuk diperiksa di kepolisian.

“Waktu di lokasi saat menemukan itu tidak ada ambulans. Ambulans itu diketahui setelah kami bawa ke Polsek,” kata Irna.

Dari pemeriksaan tersebut, menurut Irna, polisi mendapatkan informasi bahwa kursi diduga diangkut menggunakan ambulans pribadi.

“Saat dilakukan interogasi oleh kepolisian, di situlah kami mengetahui bahwa modus mereka menggunakan ambulans. Itu ambulans pribadi,” ujarnya.

Ambulans tersebut disebut berasal dari luar Kota Surabaya.

Salah satu terduga juga disebut merupakan warga Kabupaten Sumenep.

Dua informasi ini menjadi bagian penting dalam penyidikan karena membuka jalur penelusuran yang lebih luas, dari Surabaya hingga Madura.

Namun, sejumlah hal masih belum terang.

Siapa pemilik ambulans?

Siapa yang mengemudikannya?

Apakah pemilik kendaraan mengetahui isi muatan?

Dari mana kursi diambil?

Dan apakah ambulans tersebut memang sengaja digunakan untuk menyamarkan aktivitas pengangkutan barang?

Jawaban atas pertanyaan tersebut berada dalam proses penyelidikan kepolisian.

Kursi Turun, Ambulans Menghilang

Dari informasi yang diperoleh Satpol PP, rangkaian peristiwa diduga berlangsung cepat.

Kursi disebut diperoleh pada pagi hari. Setelah itu, kursi dibawa menggunakan ambulans menuju tempat pengepul.

Setelah barang diturunkan, kendaraan pergi.

“Dia dapat pagi. Kemudian dia kirim ke lokasi tersebut, ditaruh di pengepul dan ambulansnya pergi. Sehingga waktu pasukan kami datang, kami tidak melihat ambulans karena sudah tidak ada,” tutur Irna.

Pola tersebut menjelaskan mengapa petugas hanya menemukan kursi dan tidak menemukan kendaraan yang diduga digunakan untuk mengangkutnya.

Tidak lama kemudian, seorang pria datang menggunakan sepeda motor.

Pria tersebut kemudian diamankan.

“Setelah itu datang lagi orang lain menggunakan sepeda motor ke pengepul. Nah, yang membawa sepeda motor ini yang kami amankan,” kata Irna.

Dua orang kemudian diserahkan kepada kepolisian untuk diproses lebih lanjut.

Mengapa Pengepul Menerima?

Ada satu mata rantai lain yang tidak kalah penting: pengepul.

Sebab, sebelum menjadi barang yang ditimbang, dua kursi tersebut sudah masuk ke sebuah jalur perdagangan barang bekas.

Menurut Irna, secara fisik kursi tersebut memiliki tanda yang cukup mudah dikenali karena menggunakan logo Pemkot Surabaya dan desain khusus.

“Biasanya para pengepul barang bekas akan menanyakan dari mana asalnya. Sehingga saat dia menerima kami yakin pasti dia sudah tahu,” ujarnya.

Namun, keyakinan tersebut tetap harus dibuktikan.

Apakah pengepul benar-benar mengetahui bahwa kursi itu aset pemerintah?

Apakah pengepul telah menanyakan asal barang?

Apakah surat jalan diperiksa?

Apakah ada kesepakatan harga sebelum kursi ditimbang?

Dan apakah tempat tersebut sebelumnya pernah menerima barang fasilitas pemerintah?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena posisi pengepul dapat menentukan apakah ia sekadar menerima barang tanpa mengetahui asal-usulnya atau justru memiliki pengetahuan mengenai sumber barang.

Untuk saat ini, seluruh kemungkinan tersebut masih harus dibuktikan melalui proses hukum.

Ada Dugaan Mata Rantai di Sumenep

Kasus ini juga tidak berhenti di Surabaya.

Irna menyebut salah satu terduga merupakan warga Kabupaten Sumenep. Selain itu, kepolisian disebut tengah menyelidiki seorang perempuan yang berada di Sumenep dan diduga memiliki keterkaitan dengan perkara tersebut.

“Yang dua orang itu kita kirim ke kepolisian dan sudah diproses. Yang satu wanita sedang diselidiki kepolisian, berada di Sumenep,” katanya.

Informasi ini membuat penyidik perlu melihat perkara secara utuh.

Bukan hanya siapa yang berada di lokasi pengepul, tetapi juga siapa yang berada di belakang proses pengambilan, pengangkutan, pengurusan dokumen hingga rencana penjualan.

Jika rangkaian tersebut terbukti saling berkaitan, dua kursi taman yang ditemukan Satpol PP bisa menjadi bagian kecil dari perkara yang lebih luas.

Yang Belum Terjawab

Sampai tahap ini, sejumlah pertanyaan penting masih menunggu jawaban penyidik:

1. Dari taman mana dua kursi tersebut diambil?
Lokasi asal aset menjadi titik awal untuk mengetahui bagaimana kursi bisa hilang dari fasilitas publik.

2. Siapa yang mengambilnya?
Identitas orang yang berada di pengepul belum otomatis menjawab siapa pelaku pengambilan dari lokasi asal.

3. Siapa pemilik dan pengguna ambulans?
Penggunaan ambulans menjadi bagian penting untuk mengurai pola pengangkutan.

4. Dari mana surat jalan berasal?
Jika dokumen tersebut benar palsu, pembuat dan penggunaannya perlu ditelusuri.

5. Sejauh mana peran pengepul?
Apakah hanya menerima barang atau mengetahui bahwa kursi merupakan aset pemerintah?

6. Siapa perempuan yang sedang ditelusuri di Sumenep?
Keterangannya dapat menjadi penting untuk mengetahui apakah ada mata rantai lain dalam perkara tersebut.

Bukan Soal Harga Dua Kursi

Secara nominal, perkara ini mungkin terlihat kecil.

Hanya dua kursi taman.

Tetapi nilai persoalannya bukan semata harga barang yang ditemukan di atas timbangan.

Kursi tersebut merupakan fasilitas yang dibeli dan ditempatkan menggunakan sumber daya pemerintah untuk kepentingan masyarakat.

Ketika aset semacam itu diduga dapat dipindahkan, diangkut menggunakan kendaraan pribadi, kemudian masuk ke jalur perdagangan barang bekas, yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa pelakunya.

Yang lebih penting adalah di titik mana pengawasan aset publik gagal bekerja.

Apakah kursi tidak terpantau ketika hilang?

Apakah ada sistem pencatatan atau pemeriksaan fasilitas taman secara berkala?

Apakah kejadian serupa pernah terjadi?

Dan berapa banyak aset fasilitas umum lain yang berpotensi mengalami nasib serupa?

Pertanyaan terakhir tentu membutuhkan data dan pemeriksaan lebih jauh.

Namun satu hal sudah jelas: dua kursi yang ditemukan di atas timbangan telah membuka pintu bagi penyelidikan yang jauh lebih besar daripada sekadar transaksi barang bekas.

Kini, publik menunggu bagaimana kepolisian mengurai setiap mata rantai perkara tersebut—dari taman, ambulans, surat jalan, pengepul, hingga dugaan keterlibatan pihak lain di luar Surabaya.

Karena pada akhirnya, yang sedang diuji bukan hanya dugaan pencurian dua kursi.

Yang sedang diuji adalah seberapa kuat negara menjaga barang miliknya sendiri ketika barang itu berada di ruang publik.

BACA BERITA ASLI
Scan QR Code untuk membaca berita lengkap di SIGAP88