JAKARTA | SIGAP88 – Perkembangan teknologi robotik dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam dunia kedokteran, khususnya pada tindakan operasi ortopedi. Namun, secanggih apa pun teknologi yang digunakan, peran dokter tetap menjadi faktor penentu keberhasilan penanganan pasien.
Pernyataan itu disampaikan Ahli Bedah Ortopedi KPJ Kuching Specialist Hospital, Malaysia, dr. Lee Woo Guan, dalam kegiatan Health Talk Specialist Orthopedic bertajuk “Mobilitas Aktif di Usia Emas” yang digelar di Jakarta, Sabtu (27/6/2026) malam.

Menurut dr. Lee, teknologi robotik maupun AI berfungsi meningkatkan akurasi dan efisiensi tindakan medis, tetapi tidak memiliki kemampuan mengambil keputusan klinis sebagaimana seorang dokter yang didukung pengalaman, keterampilan, dan pertimbangan profesional.
“Robot dan AI hanya membantu kerja dokter, tetapi tidak bisa menggantikan keahlian dokter,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berbagai rumah sakit saat ini dapat dengan mudah mengadopsi teknologi robotik. Namun, keberhasilan pemanfaatannya sangat bergantung pada kemampuan dokter dalam mengoperasikan perangkat tersebut.
“Robot dapat dibeli, tetapi keahlian dokter tidak bisa dibeli. Jika teknologi digunakan tanpa penguasaan yang memadai, risiko kesalahan hingga komplikasi tetap dapat terjadi,” ujarnya.
Bahkan, dalam praktiknya, dr. Lee mengaku kerap menangani pasien yang memerlukan tindakan koreksi atau restorasi akibat operasi sebelumnya yang belum memberikan hasil optimal.
Sementara itu, Konsultan Ahli Bedah Ortopedi dan Tulang Belakang KPJ Kuching Specialist Hospital, dr. Wong Chung Chek, menjelaskan bahwa teknologi navigasi robotik kini memberikan kontribusi besar terhadap keselamatan pasien, terutama pada operasi tulang belakang yang memiliki tingkat kompleksitas tinggi.

Menurutnya, penggunaan Brainlab Kick Navigation System memungkinkan dokter memperoleh visualisasi anatomi pasien secara tiga dimensi dan real time, sehingga setiap tindakan dapat dilakukan dengan tingkat presisi yang lebih tinggi.
“Teknologi navigasi robotik membantu ahli bedah menempatkan implan secara lebih akurat, meminimalkan risiko cedera jaringan saraf, serta meningkatkan keselamatan pasien selama prosedur berlangsung,” jelasnya.
Selain meningkatkan akurasi, teknologi tersebut juga dinilai mampu menekan risiko komplikasi, mempercepat proses pemulihan pasien, serta memberikan hasil operasi yang lebih optimal, termasuk pada penanganan kasus skoliosis.
Kegiatan edukasi kesehatan ini merupakan kolaborasi antara KPJ Kuching Specialist Hospital Malaysia dan Bhinneka Life Indonesia. Sekitar 100 peserta mengikuti diskusi yang menghadirkan berbagai perkembangan terbaru di bidang ortopedi dan teknologi medis.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Regional Chief Executive Officer (CEO) KPJ Healthcare Wilayah Malaysia Timur, dr. Kenny Yeap Kim Pey, CEO KPJ Kuching Specialist Hospital Nor Azlina Jemain, serta CEO Bhinneka Life Benny Indra.
Dr. Kenny berharap kolaborasi edukasi kesehatan antara Indonesia dan Malaysia dapat terus berlanjut sebagai bagian dari upaya meningkatkan wawasan masyarakat mengenai perkembangan teknologi medis modern.
Senada dengan itu, Benny Indra menilai edukasi kesehatan memiliki peran penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sekaligus memahami inovasi teknologi yang kini mendukung pelayanan medis.
“Melalui kegiatan seperti ini, masyarakat memperoleh pemahaman bahwa teknologi terus berkembang. Namun, di balik kemajuan tersebut, peran tenaga medis yang kompeten tetap menjadi kunci utama dalam memberikan pelayanan kesehatan terbaik,” pungkasnya.